SEMARANG — Program Safe House 110 yang digagas Polda Jawa Tengah mendapatkan angin segar setelah Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Tengat menyatakan dukungan penuh. Dalam rapat koordinasi virtual yang digelar Rabu (3/6/2026), kedua institusi sepakat untuk menyinergikan jaringan relawan dan penyuluh agama demi memperluas jangkauan perlindungan masyarakat.
Perwakilan Polda Jateng dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Safe House 110 bukanlah pos polisi, melainkan rumah atau tempat yang dijaga oleh relawan masyarakat yang peduli keamanan lingkungan. Relawan ini siap memberikan perlindungan darurat kepada warga yang menjadi korban kejahatan serta mendukung tugas kepolisian dalam menjaga ketertiban.
“Safe House 110 diharapkan menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan darurat. Ke depan akan dibentuk titik-titik relawan yang bekerja sama dengan berbagai mitra untuk memberikan respons cepat,” jelas perwakilan Polda Jateng. Landasan utama program ini disebutkan adalah nilai-nilai kemanusiaan, bukan sekadar prosedural kepolisian.
Menanggapi tawaran tersebut, Pembimas Kristen Kanwil Kemenag Jateng Siswo Martono menegaskan bahwa pihaknya memiliki aset besar yang bisa dimanfaatkan: para penyuluh lintas agama. Jaringan ini tersebar dari Islam, Kristen, Katolik, Buddha, hingga Hindu dan memiliki akses langsung ke tokoh serta pemimpin agama di masyarakat.
“Kami memiliki banyak penyuluh dari berbagai agama. Semua unsur keagamaan dapat kami libatkan untuk menyosialisasikan program ini kepada masyarakat melalui para tokoh dan pemimpin agama,” ujar Siswo dalam pertemuan yang digelar dari ruang rapat lantai 2 Gedung Kanwil Kemenag Jateng itu.
Meski mendukung, Siswo juga memberikan catatan kritis. Ia menekankan bahwa kesiapan petugas di lapangan, mulai dari tingkat Polda hingga Polsek, harus benar-benar teruji. Tanpa respons yang cepat, kepercayaan masyarakat terhadap program ini bisa runtuh.
“Harapan kami, kesiapan petugas juga harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai ketika masyarakat sudah menghubungi layanan yang tersedia, justru tidak mendapatkan respons. Karena itu, koordinasi dan kesiapan dari tingkat Polda sampai Polsek sangat penting,” pesannya.
Rapat virtual ini dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, serta para Pembimas dari Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Ketua Tim Kerukunan Umat Beragama (KUB). Sinergi ini diharapkan mampu menghadirkan rasa aman melalui kolaborasi aparat, tokoh agama, dan relawan di seluruh Jawa Tengah.