SOLO — Kepengurusan baru JSIT Kota Surakarta langsung menghadapi pekerjaan rumah besar: menjaga relevansi sekolah Islam Terpadu di tengah gempuran era digital. Usai pelantikan, para pengurus menggelar Muskerda 2026 untuk menyusun program kerja empat tahun ke depan.
Pengurus Wilayah JSIT Jawa Tengah, Dewi Marsiyah, S.Si., menyebut persaingan di dunia pendidikan kian ketat. Banyak sekolah umum kini mengadopsi konsep sekolah Islam Terpadu. “Sekolah yang tergabung dalam JSIT harus terus berbenah dan berkembang,” tegasnya dalam arahannya.
Dewi menekankan bahwa inovasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga penguatan karakter dan nilai keislaman. Menurutnya, 14 sekolah anggota JSIT di Surakarta harus menjadi rujukan, bukan sekadar peserta.
Ketua JSIT Surakarta terpilih, Bangun Rohmadi, berkomitmen memperkuat kolaborasi antarsekolah anggota. “Kami siap bekerja sama dan berkolaborasi satu sama lain untuk terus mengembangkan sekolah IT, utamanya berkaitan dengan penanaman akhlak, Al-Qur’an, dan prestasi,” ujarnya usai pelantikan.
Muskerda kali ini dihadiri pengurus wilayah dan dewan pengawas JSIT. Mereka memberikan masukan untuk penyusunan program yang relevan dengan kebutuhan siswa di era digital. Salah satu isu yang mengemuka adalah integrasi teknologi dalam pembelajaran tanpa meninggalkan hafalan Al-Qur’an dan pembentukan akhlak.
Bangun menggantikan Devit Hari Ashari, S.Pd., yang memimpin periode sebelumnya. Dalam masa kepengurusan barunya, ia menargetkan peningkatan mutu pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembentukan karakter peserta didik.
JSIT Kota Surakarta berharap dapat menghadirkan berbagai inovasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Organisasi ini juga ingin memperkuat pendidikan karakter dan nilai-nilai keislaman di tengah tantangan era digital yang kian kompleks.