SEMARANG — Heri Pudyatmoko menilai masih banyak proyek infrastruktur di Jawa Tengah yang kurang optimal karena minimnya dialog dengan warga terdampak. Pola perencanaan yang bersifat instruksi dari atas, menurutnya, kerap melahirkan proyek yang tidak menjawab kebutuhan riil di lapangan.
“Kita harus membangun bukan hanya untuk memenuhi angka, tetapi untuk memenuhi kebutuhan riil masyarakat. Infrastruktur yang baik lahir dari mendengar suara rakyat dan memahami kondisi lingkungan setempat,” ujar Heri dalam keterangannya, Selasa.
Salah satu tantangan yang disorot adalah kesenjangan infrastruktur antara kawasan utara dan selatan Jawa Tengah. Heri menyebut akses jalan yang memadai, irigasi pertanian yang andal, serta konektivitas digital di daerah pedesaan dan pegunungan masih perlu mendapat perhatian lebih besar.
Ia menambahkan, pemerataan ekonomi tidak akan terwujud secara nyata tanpa ada perbaikan infrastruktur di wilayah yang selama ini tertinggal. “Pembangunan yang cerdas adalah yang mampu menyeimbangkan kemajuan manusia dengan tanggung jawab terhadap alam,” tegasnya.
Heri juga mengingatkan agar setiap proyek infrastruktur tidak mengabaikan aspek kelestarian alam. Ia mendorong pemerintah daerah untuk melakukan kajian lingkungan yang mendalam dan komprehensif, bukan sekadar memenuhi syarat administrasi.
Menurut politikus asal Jawa Tengah itu, pembangunan yang abai terhadap lingkungan justru akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Mulai dari banjir, penurunan kualitas tanah pertanian, hingga kerusakan ekosistem yang merugikan warga.
Heri mengajak pemerintah daerah untuk memperkuat sinergi dengan masyarakat dalam perencanaan dan pengawasan proyek. Ia meyakini pendekatan partisipatif dan berwawasan lingkungan akan menjadikan infrastruktur sebagai instrumen efektif untuk meningkatkan kesejahteraan secara merata.
“Infrastruktur bukan hanya soal beton dan aspal, melainkan juga tentang membangun fondasi kehidupan yang lebih baik, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Jawa Tengah,” pungkasnya.