JAWA TENGAH — Inspeksi yang dilakukan pada akhir pekan itu tidak sekadar seremonial. Iriawan, yang akrab disapa Iwan Bule, langsung menyambangi jantung operasional AFT Ngurah Rai untuk mengecek langsung kesiapan infrastruktur. Ia menerima paparan komprehensif dari Aviation Fuel Terminal Manager Ngurah Rai, I Komang Susila Gosa, yang memaparkan data stok terkini, proyeksi lonjakan permintaan, hingga strategi distribusi avtur.
Dalam paparannya, Komang menyebutkan bahwa pihaknya telah menyiapkan skenario distribusi untuk mengantisipasi lonjakan kedatangan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Persiapan ini krusial mengingat Bandara Ngurah Rai menjadi gerbang utama pariwisata Indonesia yang lalu lintas penerbangannya terus meningkat.
Usai mendengar pemaparan, Iriawan tidak tinggal diam. Mantan Penjabat Gubernur Jawa Barat itu langsung turun ke lapangan untuk menginspeksi seluruh sarana dan fasilitas (sarfas) yang ada. Ia ingin memastikan secara langsung bahwa setiap infrastruktur operasional berfungsi prima dan memenuhi standar kepatuhan (compliance) ketat yang berlaku di industri aviasi internasional.
Langkah inspeksi mendadak ini menegaskan komitmen Pertamina dalam menjaga kualitas dan keandalan pasokan avtur. Bahan bakar pesawat yang berkualitas buruk atau pasokan yang tersendat bukan hanya soal kerugian operasional, tetapi bisa berujung pada masalah keselamatan penerbangan. Oleh karena itu, pengawasan langsung dari jajaran komisaris menjadi penting untuk memastikan tidak ada celah dalam rantai pasok.
Kunjungan kerja ini juga menjadi bentuk monitoring dewan komisaris terhadap kinerja operasional anak usaha Pertamina di lapangan. Dengan memanfaatkan momentum libur akhir pekan, Iriawan ingin memastikan bahwa kesiapan operasional tidak boleh kendor, bahkan di hari libur sekalipun.
Pertamina selama ini mengelola sebagian besar pasokan avtur di bandara-bandara utama Indonesia. Dengan inspeksi rutin seperti ini, perusahaan berharap dapat meminimalisir risiko gangguan pasokan yang dapat menghambat mobilitas udara, khususnya di destinasi wisata utama seperti Bali yang sangat bergantung pada sektor penerbangan.