Produsen mini PC asal China, GMKtec, resmi membuka pendaftaran akses awal untuk EVO-X3 pada Senin (22/6). Perangkat ini mendapat restu langsung dari CEO AMD, Lisa Su, yang membubuhkan tanda tangannya pada unit demo — sebuah tradisi yang juga dilakukan pada model sebelumnya, EVO-X2.
Namun, yang paling mencolok dari generasi baru ini bukanlah spesifikasinya yang nyaris identik, melainkan perubahan arsitektur bodi secara menyeluruh. GMKtec mengklaim telah mengatasi tiga keluhan utama pengguna EVO-X2: casing yang terasa murahan, akses internal yang rumit, dan kebisingan kipas.
EVO-X3 kini hadir dengan "silent triple fan thermal system" yang membuatnya tampak seperti kartu grafis berlapis baja. GMKtec menyebut sistem ini dirancang untuk "menyeimbangkan performa, efisiensi, dan stabilitas termal" — cocok untuk beban kerja profesional berkelanjutan di bidang AI dan kreatif.
Perubahan desain ini menjadi fokus utama karena spek teknisnya tidak banyak bergerak. Prosesor yang digunakan masih AMD Ryzen AI Max+ 395 'Strix Halo', bukan lompatan ke seri Ryzen AI Max+ 495 'Gorgon Halo' yang dianggap kurang menarik oleh banyak penggemar teknologi.
GMKtec menyiapkan dua konfigurasi peluncuran, keduanya dengan RAM LPDDR5X-8000 sebesar 128GB. Perbedaannya hanya pada kapasitas SSD: 2TB seharga 3.600 dolar AS (Rp 57,6 juta) dan 4TB seharga 3.849 dolar AS (Rp 61,6 juta). Harga tersebut sudah merupakan diskon pra-peluncuran.
Pendaftar akses awal bisa mendapat potongan tambahan 20 dolar AS. Unit akan mulai dikirim pada 6 Juli 2026. Sebagai perbandingan, EVO-X2 dengan RAM 64GB dan SSD 1TB saat ini dijual 1.999 dolar AS di Amazon — sementara varian baru ini langsung melompat ke kisaran harga workstation kelas atas.
Dengan rentang harga 57-61 juta rupiah, EVO-X3 jelas menyasar profesional yang membutuhkan komputasi AI lokal — bukan konsumen umum. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia siap dengan harga segitu untuk sebuah mini PC, meskipun berlabel AI workstation?