KARANGANYAR — Sebanyak 122 anak di Kabupaten Karanganyar terkonfirmasi positif Tuberkulosis (TBC) berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Temuan ini menjadi perhatian serius karena menandakan penularan TBC sudah merambah kelompok usia rentan, tidak hanya orang dewasa. Dinkes Karanganyar langsung memetakan wilayah persebaran kasus untuk mengendalikan laju penularan.
Dinkes Karanganyar mencatat kasus TBC pada anak tersebar di beberapa kecamatan. Namun, data spesifik mengenai nama kecamatan dan jumlah kasus per wilayah belum dirinci lebih lanjut oleh pihak dinas. Langkah pendataan ini dinilai krusial untuk menentukan prioritas intervensi kesehatan masyarakat.
Penyakit TBC yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis menular melalui percikan dahak saat batuk atau bersin. Anak-anak memiliki sistem imun yang belum sempurna sehingga lebih rentan tertular, terutama jika tinggal serumga dengan pasien TBC aktif. Dinkes Karanganyar mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, atau berat badan turun drastis.
Dinkes Karanganyar telah melakukan penelusuran kontak erat (contact tracing) terhadap setiap kasus yang ditemukan. Selain itu, pengobatan TBC gratis diberikan melalui puskesmas di seluruh kecamatan. Masyarakat diimbau tidak mengucilkan pasien TBC karena penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan rutin selama enam bulan tanpa putus.
Dari total temuan 122 anak yang terpapar, belum ada rincian lebih lanjut mengenai jumlah kasus baru versus kasus yang sedang dalam pengobatan. Dinkes terus memperbarui data dan melakukan skrining di lingkungan sekolah serta permukiman padat penduduk untuk menekan angka penularan.
Warga yang mengalami gejala batuk lebih dari dua minggu, sesak napas, atau berkeringat di malam hari tanpa aktivitas fisik disarankan segera ke puskesmas terdekat. Pemeriksaan dahak (TCM) bisa dilakukan secara gratis. Deteksi dini menjadi kunci utama agar penularan TBC, terutama pada anak-anak, bisa segera dihentikan.