SUKOHARJO — Nama Taufik Nur Hidayat mungkin tidak setenar pemain yang berlaga di lapangan. Namun, perannya di balik layar sebagai video analis menjadi salah satu kunci penting dalam persiapan Timnas U-17 Indonesia. Pria asal Sukoharjo ini membuktikan bahwa karier gemilang bisa diraih tanpa melalui jalur konvensional.
Taufik tidak meraih posisinya secara instan. Di balik seragam Garuda yang kini dikenakannya, ada sebuah keputusan besar yang diambil saat usianya masih 17 tahun. Ia memilih untuk meninggalkan bangku pendidikan dan fokus total pada dunia sepak bola.
Langkah itu diambilnya saat bergabung dengan PFA (Pemuda Football Academy) Sukoharjo. Di akademi inilah, Taufik mulai serius mendalami aspek teknis dan analisis pertandingan, bukan sekadar menjadi pemain.
Perjalanan panjang dimulai dari lingkungan sepak bola akar rumput di Sukoharjo. Taufik terus mengasah kemampuannya dalam membaca pertandingan, memotong rekaman video, hingga menyajikan data taktis untuk pelatih. Kerja kerasnya di level lokal akhirnya membuahkan hasil ketika ia dipanggil untuk bergabung dengan struktur kepelatihan Timnas U-17.
Keputusan untuk meninggalkan pendidikan formal di usia muda menjadi titik balik. Ia memilih jalur non-akademik yang saat itu jarang dilirik oleh pemuda seusianya.
Sebagai video analis, Taufik bertanggung jawab mengolah rekaman pertandingan menjadi data yang mudah dicerna. Ia membantu pelatih memetakan kekuatan lawan dan mengevaluasi performa pemain. Pekerjaan ini menuntut ketelitian tinggi dan pemahaman mendalam tentang strategi sepak bola modern.
Kisah Taufik menjadi contoh bahwa talenta dan dedikasi bisa mengantarkan seseorang dari akademi kecil di Sukoharjo hingga ke level tim nasional. Ia membuktikan bahwa kesempatan di dunia sepak bola Indonesia tidak hanya terbuka bagi para pemain, tetapi juga bagi mereka yang bekerja di balik layar dengan keahlian spesifik.