Katak Gastric-Brooding yang Punah Jadi Target Kebangkitan, Ilmuwan Kaji Ulang Teknologi De-Extinction

Penulis: Budi Santoso  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:11:01 WIB
Ilmuwan mengkaji ulang teknologi de-extinction untuk menghidupkan kembali katak Gastric-brooding yang punah pada pertengahan 1980-an.

JAWA TENGAH — Upaya menghidupkan kembali spesies yang telah punah tidak lagi sekadar fiksi ilmiah. Setelah proyek serupa menyasar mamalia seperti mammoth berbulu, perhatian kini beralih ke amfibi, tepatnya katak Gastric-brooding yang punah pada pertengahan 1980-an. Katak asal Australia ini memiliki keunikan biologis yang tidak ditemukan pada spesies lain: induk betina menyimpan telur di dalam lambungnya dan melahirkan anaknya melalui mulut.

Fenomena tersebut menjadi daya tarik utama bagi para ilmuwan, bukan hanya karena keunikannya, tetapi juga potensi aplikasinya pada riset gastroenterologi manusia. Jika proyek ini berhasil, ini akan menjadi pertama kalinya spesies amfibi yang telah punah berhasil dihidupkan kembali, membuka peluang baru bagi konservasi biodiversitas global.

Mengapa Katak Ini Dianggap Spesial?

Proses reproduksi katak ini bertentangan dengan logika biologis pada umumnya. Telur yang telah dibuahi akan ditelan dan menetas di dalam lambung induknya. Selama masa kehamilan, produksi asam lambung berhenti total agar telur tidak tercerna. Setelah berubah menjadi kecebong, induk akan memuntahkan anak-anaknya ke dunia luar.

Mekanisme ini melibatkan regulasi hormon yang sangat kompleks. Para peneliti meyakini senyawa yang dihasilkan selama proses tersebut dapat menjadi kunci pengembangan obat untuk penyakit asam lambung atau tukak lambung pada manusia. Kepunahannya dianggap sebagai kehilangan besar bagi dunia medis dan biologi evolusioner.

Tantangan Teknis di Balik Rencana Kebangkitan

Mereplikasi proses tersebut bukanlah perkara mudah. Sampel jaringan katak ini yang dibekukan sejak sebelum kepunahannya menjadi bahan utama penelitian. Namun, DNA yang terdegradasi selama puluhan tahun menyulitkan proses sekuensing. Para ilmuwan harus membandingkan materi genetik yang tersisa dengan kerabat dekatnya yang masih hidup untuk mengisi celah genom yang hilang.

Metode yang digunakan mirip dengan proyek mammoth, yaitu menyuntikkan inti sel dari jaringan yang diawetkan ke dalam sel telur katak lain yang telah dihilangkan intinya. Proses ini dikenal dengan istilah somatic cell nuclear transfer (SCNT). Tingkat keberhasilannya masih sangat rendah dan membutuhkan percobaan berulang.

Implikasi Etis dan Ekologis

Pertanyaan besar yang muncul adalah ke mana katak ini akan dilepasliarkan jika berhasil dihidupkan. Habitat aslinya di hutan hujan Queensland telah berubah drastis. Infeksi jamur chytrid yang menjadi penyebab utama kepunahannya masih menjadi ancaman nyata bagi amfibi di seluruh dunia.

Tanpa solusi atas ancaman tersebut, upaya de-extinction hanya akan menghasilkan spesies yang hidup di penangkaran tanpa fungsi ekologis. Para ahli konservasi mengingatkan bahwa prioritas utama seharusnya tetap pada pencegahan kepunahan spesies yang masih ada, bukan sekadar menghidupkan kembali yang telah hilang.

Proyek ini masih berada pada tahap awal dan belum ada kerangka waktu pasti kapan katak tersebut bisa dilihat kembali. Namun, perkembangan teknologi genetika dalam dekade terakhir memberikan harapan bahwa target ini bukan sekadar wacana belaka.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top