KARANGANYAR — Temuan daging dengan kualitas mencurigakan memaksa pengelola SPPG Pundungan membuang sekitar 300 porsi makanan yang seharusnya didistribusikan, Kamis (20/8/2026). Inspeksi mendadak yang digelar Komisi D DPRD Karanganyar ini merupakan tindak lanjut dari laporan warga terkait kualitas salah satu menu yang disiapkan.
Ketua Komisi D DPRD Karanganyar, Ali Akbar, menyatakan bahwa pihaknya menerima informasi adanya daging yang dinilai kurang layak karena berubah aroma. Temuan ini langsung ditindaklanjuti pengelola dengan membatalkan penggunaan bahan tersebut.
"Jangan sampai SPPG yang sudah ada tidak memberikan kontribusi atau kualitasnya jelek. Kemarin kami mendapat informasi salah satu menu yang disajikan ada indikasi dagingnya kurang layak, dalam artian berubah aroma. Sekitar 300-an kemudian dibatalkan," ujarnya.
Komisi D meminta pengelola SPPG untuk memperketat pengawasan sejak proses pengadaan bahan baku. Hal ini mencakup seleksi supplier yang memasok kebutuhan dapur, proses pengolahan, hingga sistem penyimpanan sebelum makanan akhirnya didistribusikan ke penerima manfaat.
Legislatif mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja supplier. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa yang berpotensi merugikan masyarakat penerima bantuan gizi.
Selain soal kualitas pangan, tim Komisi D juga menemukan permasalahan pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Dari hasil pengecekan di lapangan, masih ditemukan saluran pembuangan yang mengarah langsung ke parit.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dikhawatirkan menimbulkan persoalan sanitasi dan pencemaran lingkungan di sekitar wilayah Jaten. DPRD meminta pengelola memastikan sistem pengolahan limbah benar-benar berfungsi optimal, bukan sekadar ada secara administratif.
Komisi D mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar untuk memberikan pendampingan teknis kepada pengelola SPPG dalam mengelola IPAL. Pendampingan ini dinilai krusial agar instalasi pengolahan limbah beroperasi sesuai standar yang berlaku.
Ali Akbar menegaskan bahwa pengelolaan limbah yang baik merupakan bagian tak terpisahkan dari operasional SPPG yang sehat. Jika tidak ditangani, dikhawatirkan akan memunculkan masalah lingkungan baru di tengah masyarakat.
Kunjungan kerja ini menjadi pengingat bahwa keberadaan SPPG sebagai program penyedia gizi harus diimbangi dengan tata kelola yang bersih dan transparan, baik dari sisi bahan baku maupun pengelolaan limbahnya.