JAWA TENGAH — Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kian serius mengejar hilirisasi mineral dan batu bara. Langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan strategi besar untuk mengubah wajah ekonomi Indonesia dari pengekspor bahan mentah menjadi pemain industri pengolahan.
Dorongan ini disampaikan langsung oleh Kepala Negara di sela-sela agenda ekonomi, menegaskan bahwa kekayaan alam yang selama ini diekspor dalam bentuk mentah harus diolah di dalam negeri. Konsekuensinya, nilai jual produk melonjak, penerimaan negara bertambah, dan yang terpenting, terbuka ribuan lapangan kerja bagi masyarakat.
Selama ini, potensi besar mineral dan batu bara Indonesia kerap menguap begitu saja ketika dikirim ke luar negeri dalam bentuk mentah. Negara hanya menerima porsi kecil dari rantai nilai global yang sangat panjang.
Padahal, dengan membangun smelter dan pabrik pengolahan di dalam negeri, setiap ton bijih mineral bisa diubah menjadi produk setengah jadi atau jadi dengan harga jual berkali-kali lipat. Ambil contoh nikel yang diolah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik—nilainya berlipat ganda dibanding menjual bijih mentah.
Prabowo menekankan bahwa hilirisasi adalah kunci untuk menutup celah tersebut. Ia ingin memastikan seluruh rantai pasok industri ekstraktif berputar di dalam negeri, mulai dari hulu hingga hilir.
Pemerintah tidak hanya berhenti pada wacana pengolahan nikel atau bauksit. Arah kebijakan kini menyasar ke pembangunan ekosistem industri yang lebih kompleks, termasuk pabrik baterai kendaraan listrik dan turunan produk petrokimia dari batu bara.
Ini berarti perusahaan-perusahaan pelat merah seperti PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) akan memainkan peran sentral. Pertamina diproyeksikan terlibat dalam pengembangan energi baru terbarukan, sementara PLN bersiap memasok listrik bersih untuk kawasan industri pengolahan mineral yang tersebar di berbagai daerah.
Di sisi lain, sektor perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dipastikan ikut ambil bagian dengan menyediakan skema pembiayaan bagi mitra usaha yang masuk ke rantai pasok hilirisasi. Kucuran kredit usaha rakyat (KUR) dan kredit investasi diarahkan untuk menopang pertumbuhan industri pengolahan ini.
Dampak paling nyata dari hilirisasi adalah penyerapan tenaga kerja. Kawasan industri pengolahan mineral yang dibangun di Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan membutuhkan ribuan pekerja, mulai dari teknisi, operator alat berat, hingga tenaga administrasi.
Selain itu, efek berganda (multiplier effect) akan terasa di sektor jasa di sekitar kawasan industri. Perputaran uang di daerah meningkat, pertumbuhan UMKM lokal terpacu, dan infrastruktur jalan serta pelabuhan ikut dibenahi untuk menunjang logistik.
Bagi investor, kepastian arah kebijakan ini menjadi sinyal positif. Arus modal asing di sektor pengolahan mineral diprediksi terus mengalir, seiring dengan kepastian hukum dan dukungan penuh pemerintah terhadap proyek-proyek bernilai strategis ini.
Ke depan, keberhasilan hilirisasi akan diukur dari seberapa besar kontribusinya terhadap peningkatan pendapatan per kapita dan pengurangan ketergantungan ekonomi pada fluktuasi harga komoditas global. Dengan pengolahan di dalam negeri, Indonesia tidak lagi menjadi penonton di pasar global, melainkan pemain utama yang menentukan harga.