JAWA TENGAH — Mitsubishi Motors resmi memperkenalkan kendaraan listrik ASX VR-e untuk pasar Australia dan Selandia Baru. Langkah ini menjadi sinyal kuat pergeseran strategi pabrikan Jepang tersebut yang mulai melepas ketergantungan dari kawasan ASEAN.
Keputusan ini diambil di tengah melemahnya pasar Asia Tenggara akibat tekanan inflasi, kenaikan suku bunga, dan serbuan mobil listrik murah asal China. Mitsubishi menargetkan penjualan 1.500 unit ASX VR-e hingga akhir tahun fiskal 2026 di kedua negara tersebut.
Menariknya, ASX VR-e tidak diproduksi oleh Mitsubishi. Model ini dipasok oleh Foxtron Vehicle Technologies, unit bisnis otomotif milik raksasa elektronik Taiwan, Foxconn. Kemitraan berbasis original equipment manufacturer (OEM) ini tercatat sebagai kerja sama pertama Foxtron memasok kendaraan listrik untuk merek Jepang.
Keputusan menyerahkan produksi EV ke pihak ketiga diambil karena Mitsubishi memilih menyetop pengembangan mobil listrik secara mandiri demi efisiensi biaya. Sumber daya perusahaan kini dialihkan untuk memperkuat segmen plug-in hybrid, sementara kebutuhan varian EV dipenuhi lewat pasokan dari mitra.
Wilayah Asia Tenggara sebelumnya merupakan tulang punggung penjualan Mitsubishi, menyumbang sekitar 30 persen dari total penjualan kendaraan baru global pada tahun fiskal 2025. Namun kinerja di kuartal terakhir menunjukkan penurunan 7 persen, berbanding terbalik dengan target pertumbuhan 10 persen.
Penurunan ini ikut menyeret total penjualan global Mitsubishi turun 8 persen menjadi 179 ribu unit kendaraan. CEO Mitsubishi Motors, Takao Kato, mengakui bahwa rencana jangka menengah sebelumnya terlalu berfokus pada produk untuk pasar ASEAN.
"Dalam rencana jangka menengah sebelumnya, kami terlalu berfokus pada produk untuk pasar ASEAN," ujar Takao Kato dikutip Nikkei Asia, Senin (24/8).
Untuk menutupi penurunan di ASEAN, Mitsubishi menetapkan Amerika Serikat sebagai wilayah pemulihan utama. Karena tidak memiliki pabrik manufaktur di Amerika Utara, Mitsubishi menggandeng Nissan Motor dan Honda Motor untuk mengisi lini produk mereka secara berkala hingga 2030.
Mitsubishi bakal mendatangkan kendaraan listrik berbasis Nissan Leaf mulai paruh kedua 2026. Selain itu, pasokan mobil pikap buatan pabrik Nissan di Mississippi diproyeksikan meluncur pada 2029 untuk menghindari tarif impor Amerika Serikat.
Langkah efisiensi dan perombakan peta bisnis ini diharapkan bisa mendongkrak penjualan global Mitsubishi hingga 850 ribu unit pada tahun fiskal 2026. Amerika Utara diproyeksikan menjadi pundi-pundi profit yang stabil karena penetrasi mobil listrik murah China di kawasan tersebut relatif masih terbatas dibandingkan ASEAN.