JAWA TENGAH — Lonjakan ini menjadi perhatian serius BPH Migas karena terjadi beruntun sejak pemerintah menyesuaikan harga solar nonsubsidi jenis Dex series pada 18 April 2026. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebutkan, sebelum penyesuaian harga tersebut, rata-rata penyaluran biosolar hanya sekitar 50.624 KL per hari.
"Dari sisi monitoring penyaluran BBM untuk minyak solar, kenaikannya cukup signifikan," ujar Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI yang dipantau dari Badung, Bali, Rabu (26/8/2026).
Data BPH Migas menunjukkan efek domino kenaikan harga solar nonsubsidi langsung terasa dalam hitungan hari. Pada periode 18 April hingga 4 Mei 2026, konsumsi biosolar tercatat 50.745 KL per hari atau naik tipis 0,24 persen.
Memasuki Mei 2026, angkanya semakin menjauh dari rerata awal dengan pertumbuhan 4,07 persen menjadi 52.685 KL per hari. Tren ini terus berlanjut hingga puncaknya di bulan Agustus yang mencatat rekor pertumbuhan tertinggi sebesar 15,10 persen.
Wahyudi menjelaskan, kenaikan harga solar nonsubsidi membuat masyarakat dan pelaku usaha berbondong-bondong beralih ke solar bersubsidi. Namun, faktor lain yang tak kalah dominan adalah meningkatnya kebutuhan sektor produktif.
"Ada indikasi peningkatan faktor ekonomi. Aktivitas logistik meningkat, baik ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat," jelasnya.
Data makro yang dipaparkan Wahyudi memperkuat argumen tersebut. Sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen secara year to date. Sektor akomodasi serta penyediaan makan dan minum tumbuh lebih agresif lagi, yakni 10,6 persen year to date. Sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan 3,8 persen dalam periode yang sama.
Menghadapi permintaan yang terus meningkat, BPH Migas memastikan pasokan ke masyarakat tetap aman. Wahyudi menegaskan lembaganya terus melakukan proses pemenuhan kebutuhan BBM secara baik di tengah lonjakan permintaan yang terjadi.
Kenaikan konsumsi ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi pengawasan di lapangan. Pasalnya, disparitas harga yang lebar antara solar bersubsidi dan nonsubsidi kerap memicu penyalahgunaan, seperti penjualan kembali solar subsidi kepada industri yang tidak berhak.
Dengan tren pertumbuhan ekonomi yang masih positif hingga akhir tahun, tekanan terhadap kuota solar bersubsidi diperkirakan akan terus berlanjut. BPH Migas pun dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan masyarakat dan ketepatan sasaran penyaluran subsidi.