SEMARANG — Setelah 30 tahun beroperasi, Atlanta Elektronik memilih untuk memperkuat fokus pada bisnis ritel fisik di tengah derasnya arus penjualan online. Keputusan ini disampaikan langsung oleh pemilik usaha, Santoso Kurniadi, dalam acara Re-Grand Opening gerainya di Jalan MT Haryono, Semarang, Jumat (28/8/2026).
Santoso mengakui bahwa dinamika industri elektronik tidak pernah mudah. Perubahan teknologi yang cepat, fluktuasi harga produk, hingga persaingan dengan kanal digital memaksa perusahaannya untuk terus beradaptasi.
"Sekarang tantangannya berbeda. Kami tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan dalam jumlah besar, tetapi harus melihat kebutuhan konsumen dan menjaga hubungan dengan para mitra," katanya.
Menurut Santoso, kunci bertahannya Atlanta selama ini adalah kemampuan beradaptasi dan menjaga relasi panjang dengan produsen, grosir, hingga konsumen. Kini, perusahaan justru melihat toko fisik memiliki nilai tawar yang tidak dimiliki platform online.
Konsumen bisa melihat produk secara langsung, berkonsultasi, dan mendapatkan layanan purnajual. Santoso mencontohkan, ketika ada pembeli yang mengeluhkan harga online lebih murah, pihaknya akan menjelaskan perbedaan layanan yang didapat.
"Kalau ada konsumen mengatakan harga online lebih murah, kami harus menjelaskan bahwa konsumen juga perlu melihat tipe barang dan layanan yang didapat. Ketika barang bermasalah setelah dibawa pulang, mereka membutuhkan tempat untuk mendapatkan solusi," ujarnya.
Ke depan, menurutnya, ritel tidak hanya berbicara soal harga dan jumlah produk. Pengalaman berbelanja dan kemampuan memberikan informasi yang tepat menjadi nilai jual utama.
Perjalanan panjang Atlanta juga terlihat dari loyalitas sejumlah brand elektronik nasional dan internasional. Direktur PT Hartono Istana Teknologi, Tekno Wibowo, menyebut Polytron telah bekerja sama dengan Atlanta sejak 1986 untuk berbagai produk, mulai dari televisi, kulkas, hingga motor listrik.
Hubungan dengan Akari bahkan lebih lama. CEO PT Akari Indonesia, Kenny Kwe, mengungkapkan kerja sama dengan Atlanta telah terjalin sejak 1970, mencakup produk Philips seperti water heater dan AC.
Dukungan serupa datang dari LG Electronics. Sales Director PT LG Electronics Indonesia, Erwan Zheng, menilai kemampuan Atlanta bertahan lebih dari 30 tahun adalah pencapaian luar biasa dan menjadi kekuatan di tengah perubahan pasar.
Sementara itu, Senior GM Nasional Sales & Marketing PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengingatkan bahwa industri elektronik menghadapi tantangan dari perubahan regulasi dan kondisi pasar. Pelaku industri harus mampu beradaptasi untuk tetap berkontribusi kepada masyarakat.
Harapan besar disampaikan Retail Head Director PT Samsung Electronics Indonesia, Praryadi Slamet. Ia menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan semakin memengaruhi produk elektronik dan pola konsumsi masyarakat.
"Kami yakin bersama Atlanta dan seluruh mitra elektronik, kita bisa maju dan berkembang bersama. Harapannya Atlanta bukan hanya bertahan 30 tahun, tetapi bisa terus berkembang hingga 100 tahun ke depan," katanya.
Managing Director PT Niko Elektronik Indonesia, Siswo Handoyo, menambahkan bahwa hubungan keluarganya dengan keluarga Santoso telah berlangsung sejak generasi sebelumnya. Ia bangga brand lokal NIKO bisa berdampingan dengan merek internasional di Atlanta. Branch Manager Changhong Jawa Tengah, Ega, juga mengapresiasi perjalanan Santoso dan berharap kerja sama semakin kuat.
Artugo, melalui CEO PT Kreasi Arduo Indonesia, Robert Widjaja, turut menyatakan komitmennya menghadirkan produk dengan karakter berbeda, seperti freezer dengan pilihan warna dan kompor berbahan batu, untuk tumbuh bersama Atlanta.