Gerakan Pangan Murah di Semarang Tembus 729 RW, Transaksi Capai Rp5 Miliar Lebih

Penulis: Budi Santoso  •  Senin, 07 September 2026 | 08:52:31 WIB
Warga memadati operasi pasar Gerakan Pangan Murah di Halaman Kantor Kecamatan Banyumanik, Semarang, Senin (31/8/2026).

JAWA TENGAH — Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Semarang tidak lagi berpusat di balai kota atau kecamatan. Lewat program Kempling Semar, distribusi bahan pokok kini menyasar langsung ke tingkat Rukun Warga (RW) untuk menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan.

Sepanjang Agustus 2026, program ini telah menggelar operasi pasar di 729 RW yang tersebar di 16 kecamatan. Puncak kegiatan GPM serentak digelar di Halaman Kantor Kecamatan Banyumanik pada Senin (31/8/2026), melibatkan 14 mitra penyedia pangan strategis.

Rincian Komoditas dan Nilai Transaksi di Tingkat RW

Intervensi di tingkat RW selama Agustus tercatat menyalurkan 80 ton beras SPHP dan 35.040 liter minyak goreng. Nilai transaksi dari dua komoditas utama tersebut mencapai Rp128,12 juta, belum termasuk komoditas lain seperti gula pasir, telur ayam ras, cabai, bawang merah, bawang putih, hingga sayuran segar.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan pendekatan langsung ke lingkungan warga menjadi strategi utama menjaga akses pangan berkualitas dengan harga terjangkau. "Kolaborasi erat bersama Bank Indonesia serta 14 mitra penyedia pangan strategis tidak hanya mengamankan pasokan kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng, tetapi juga mendorong ketahanan pangan keluarga dan menggerakkan roda perekonomian lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM daerah," jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).

Digitalisasi Transaksi dan Pengendalian Inflasi

Pelaksanaan GPM kali ini tidak sekadar menjual bahan pangan murah. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari H, menyebut program ini merupakan bagian dari kerangka Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang memperkuat distribusi pangan sekaligus mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat.

"Gelaran GPM ini juga mengintegrasikan bauran kebijakan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran melalui penggunaan QRIS guna mempermudah transaksi masyarakat secara cepat, praktis, dan aman," tutur Andi Reina. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan transaksi tercatat rapi dan mengurangi peredaran uang tunai di pasar rakyat.

Mitra Pemasok dan Program Pendukung Ketahanan Pangan

Pemasok bahan pangan dalam program ini melibatkan BUMN dan BUMD, antara lain Perum BULOG Kantor Cabang Semarang, PT Jateng Agro Berdikari, PT Rajawali Nusindo, PT Indoguna, PT Bhumi Pandanaran Sejahtera, serta PT Lumpang Semar Sejahtera. Sejumlah distributor pangan lokal juga turut ambil bagian dalam rantai pasok ini.

Di luar kegiatan jual-beli, rangkaian acara juga dimanfaatkan untuk menyerahkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) dan meluncurkan program budidaya pekarangan keluarga "Bulir Padi" di Kelurahan Jangli dan Mijen. Sertifikat Zona KHAS diberikan kepada YPKPI Masjid Raya Baiturrahman, SMPN 30, dan SMPN 31 Semarang, sementara bazar produk olahan UMKM turut memeriahkan kegiatan.

Target Inflasi dan Strategi 4K ke Depan

Pemkot Semarang dan Bank Indonesia Jateng akan melanjutkan penguatan strategi 4K—keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Upaya ini diarahkan menjaga inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Semarang tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dengan cakupan yang terus meluas hingga tingkat RW, efektivitas GPM sebagai alat intervensi pasar akan lebih terukur. Keberadaan mitra penyedia pangan yang melibatkan BUMN dan distributor lokal menjadi kunci keberlanjutan program ini dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di ibu kota Jawa Tengah.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: joglojateng.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top