SLAWI — Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Tegal mendistribusikan bantuan air bersih ke sejumlah titik yang pasokan airnya paling kritis. Penyaluran dilakukan bertahap untuk memastikan aktivitas rumah tangga warga tetap berjalan, mulai dari konsumsi, memasak, hingga sanitasi dasar.
Minimnya intensitas curah hujan membuat sumur resapan dangkal yang selama ini jadi sumber utama warga tidak lagi mengeluarkan air. Lima desa di tiga kecamatan kehilangan akses air minum utama dan harus membeli air isi ulang untuk kebutuhan sehari-hari.
Wilayah yang menerima distribusi air bersih tersebar di Kecamatan Bojong, Jatinegara, dan Kedungbanteng. Rinciannya:
Kelima wilayah itu mengandalkan sumur resapan dangkal yang kini kering total. Ratusan kepala keluarga terdampak langsung karena kehilangan sumber air utama untuk konsumsi harian.
Pasokan air disalurkan secara bergiliran antardesa. Skema itu diterapkan mengingat jumlah unit armada tangki penampung di lapangan tidak sebanding dengan kebutuhan warga di lima lokasi.
Ketua LAZISNU Kabupaten Tegal, H. Maskun, menyebut pihaknya mengoptimalkan keterbatasan operasional agar pasokan tetap terbagi adil dan merata.
"Penyaluran air bersih ini kami lakukan secara bergilir karena armada tangki terbatas. Kami berupaya agar bantuan bisa menjangkau warga di desa-desa yang mengalami kesulitan air bersih," ujar H. Maskun, Sabtu (10/10/2026).
Penyaluran bantuan ini melibatkan kemitraan LAZISNU dengan PT RNT Tegal dan sejumlah tokoh pengusaha lokal. Sinergi tersebut membantu memperluas jangkauan distribusi ke desa-desa yang paling membutuhkan.
Warga terdampak mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air isi ulang maupun galon guna memenuhi kebutuhan konsumsi harian. Kondisi itu memberatkan rumah tangga yang sebelumnya tidak menganggarkan pembelian air.
Penyaluran air bersih secara bergilir diproyeksikan berlanjut selama kemarau belum berakhir dan pasokan air tanah belum pulih. LAZISNU Kabupaten Tegal menyatakan akan terus menyesuaikan jadwal distribusi dengan tingkat kekritisan tiap desa.