TEGAL — Dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional di Kota Tegal, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyoroti angka kemiskinan provinsi yang masih 9,21 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa. Menurutnya, santri punya posisi strategis untuk menekan angka itu melalui kemandirian ekonomi.
Luthfi menyebut Jawa Tengah memiliki 555 ribu santri yang tersebar di berbagai pondok pesantren. Jumlah itu dinilai sebagai kekuatan besar jika diarahkan pada program pengentasan kemiskinan dan pengembangan usaha.
Gubernur menjelaskan, Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 tidak kehilangan relevansi. Konteks perjuangannya yang bergeser, bukan semangatnya.
"Para santri harus mampu menjadi benteng terakhir dan garda terdepan dalam membangun daerahnya, mulai dari kabupaten hingga provinsi. Dengan cara apa? Menyejahterakan masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan," ujar Luthfi.
Ia menegaskan, jika dahulu santri berjuang mengusir penjajah, kini perjuangan itu diwujudkan dengan meningkatkan kesejahteraan warga. Santri dituntut mandiri secara ekonomi, bukan hanya kuat di bidang keagamaan.
Pemprov Jateng menjalankan program Pesantren Obah yang dipimpin Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, melibatkan Kementerian Agama dan sejumlah pihak terkait. Cakupannya meliputi beasiswa pendidikan, bantuan pondok pesantren, pengembangan usaha santri, hingga insentif guru madrasah diniyah.
Sejauh ini, Pemprov Jateng telah memberikan beasiswa kepada 488 santri, termasuk santri penggerak. Sebanyak 58 santri lain mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, antara lain ke Yaman dan Mesir.
Program insentif guru agama juga dilanjutkan. Pada 2025, insentif menjangkau 230.830 penerima dengan total anggaran sekitar Rp277 miliar.
Luthfi meminta santri ikut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Stabilitas daerah, katanya, menjadi syarat penting keberhasilan pembangunan, terlebih di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
"Potensi ini harus kita kelola dan kita gandeng untuk menjadi cooling system, atau penyejuk di tengah masyarakat," ujarnya.
Ia berharap santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan, keterampilan lain, dan kepedulian sosial. "Para santri harus mempunyai kebanggaan dalam dirinya untuk ikut membangun bangsa," tandasnya.
Pada peringatan di Kota Tegal, Pemprov Jateng menyerahkan bantuan renovasi kepada empat pondok pesantren, masing-masing Rp25 juta. Penerimanya Ponpes Al Munawarroh Margadana, Nurul Ma'arif, Insan Tebuireng, dan Mambaul Ulum.
Selain itu, diserahkan insentif bagi 1.390 pengajar keagamaan senilai Rp834 juta serta bantuan 300 paket sembako. Total bantuan renovasi dan insentif pengajar keagamaan mencapai Rp934 juta, belum termasuk nilai paket sembako.