Laba Bank Mandiri Tembus Rp45,5 Triliun, Naik 20,7 Persen

Penulis: Andi Pratama  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:06:32 WIB
Laba bersih konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp45,5 triliun hingga akhir September 2026 atau tumbuh 20,7 persen secara tahunan.

JAWA TENGAH — Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun hingga akhir September 2026, tumbuh 20,7 persen secara tahunan di tengah tekanan biaya dana industri perbankan. Lonjakan laba ditopang pendapatan yang lebih terdiversifikasi dan pemangkasan biaya operasional. Kualitas aset yang membaik membuat perseroan optimistis mempertahankan profitabilitas.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita W. Anggraini menyebut pertumbuhan kredit yang solid, efisiensi, serta pengelolaan kualitas aset sebagai tiga faktor utama kinerja perseroan pada kuartal III 2026. Aktivitas transaksi yang meningkat turut memberi dorongan tambahan pada pendapatan.

Pendapatan Nonbunga Tumbuh Lebih Cepat

Pendapatan Bank Mandiri naik 7,08 persen secara tahunan menjadi Rp97,3 triliun. Pendapatan nonbunga justru tumbuh lebih tinggi, 13,8 persen menjadi Rp29,4 triliun, seiring meningkatnya aktivitas transaksi dan layanan perbankan.

Pendapatan bunga bersih meningkat 6,20 persen menjadi Rp61,2 triliun. Pertumbuhan ini lebih moderat dibanding pendapatan nonbunga karena biaya dana di industri perbankan ikut menanjak.

“Dengan sumber pendapatan yang semakin kuat dan terdiversifikasi, total pendapatan Bank Mandiri tetap tumbuh solid sebesar 8,54 persen menjadi Rp90,6 triliun,” ujar Novita dalam Paparan Publik Kinerja Bank Mandiri Kuartal III 2026 di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Biaya Operasional Turun 9 Persen

Dari sisi belanja, biaya operasional Bank Mandiri turun 9,03 persen menjadi Rp32,7 triliun. Rasio biaya terhadap pendapatan atau cost-to-income ratio (CIR) berada di level 36,1 persen, salah satu yang terbaik di antara bank besar nasional.

Penurunan biaya inilah yang menopang lonjakan laba bersih konsolidasi. Laba Rp45,5 triliun tersebut setara dengan pertumbuhan 20,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kredit Bermasalah Turun ke 0,98 Persen

Kualitas kredit ikut membaik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) Bank Mandiri turun menjadi 0,98 persen, level yang menunjukkan kualitas aset tetap terjaga meski penyaluran kredit tumbuh agresif.

“Ekspansi bisnis diiringi dengan kualitas aset yang semakin sehat. Rasio NPL turun menjadi 0,98 persen, CIR pada level 36,1 persen,” kata Novita.

Total aset perseroan tumbuh 20,1 persen secara tahunan hingga kuartal III 2026. Pertumbuhan itu didukung kenaikan kredit 16,0 persen dan dana pihak ketiga (DPK) 17,7 persen.

ROE 23,6 Persen, Modal Tetap Tebal

Dari sisi profitabilitas, Bank Mandiri membukukan return on equity (ROE) 23,6 persen dan return on assets (ROA) 2,99 persen. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di 18,4 persen, memberi ruang bagi perseroan untuk ekspansi sekaligus mengelola risiko.

Novita menilai capaian ini mencerminkan hasil transformasi bisnis dan digitalisasi yang dijalankan Bank Mandiri. Perseroan berupaya menjaga profitabilitas lewat pengelolaan pendapatan, biaya, dan risiko secara disiplin.

“Dengan pendapatan yang semakin kuat dan terdiversifikasi, efisiensi yang terus meningkat, serta kualitas aset yang terjaga, Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan profitabilitas yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kinerja kuartal III ini menempatkan Bank Mandiri di jalur pertumbuhan dua digit, meski industri perbankan nasional masih menghadapi tekanan biaya dana. Kombinasi pendapatan nonbunga yang melesat dan CIR rendah menjadi pembeda dibandingkan bank yang lebih bergantung pada pendapatan bunga.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top