Pencarian

Investasi Hilirisasi Semester I 2026 Capai Rp300,1 Triliun, 75,7% di Luar Jawa

Minggu, 18 Oktober 2026 • 10:38:01 WIB
Investasi Hilirisasi Semester I 2026 Capai Rp300,1 Triliun, 75,7% di Luar Jawa
Realisasi investasi hilirisasi Semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7% dari total investasi nasional.

JAWA TENGAH — Realisasi investasi hilirisasi Indonesia menembus Rp300,1 triliun pada Semester I 2026, atau 29,7% dari total investasi nasional. Nilai itu tumbuh 6,9% dibanding periode sama tahun lalu, dengan luar Pulau Jawa menyumbang Rp227,3 triliun atau 75,7% dari total.

Laporan Capaian Realisasi Investasi Periode Triwulan II dan Semester I 2026 dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat modal asing (PMA) mendominasi struktur pembiayaan hilirisasi. Nilainya Rp212,8 triliun, setara 70,9% dari total, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp87,3 triliun atau 29,1%.

Tiga negara asal modal terbesar adalah Hong Kong dengan Rp75,2 triliun, Singapura Rp65,7 triliun, dan China Rp28,3 triliun. Konsentrasi modal asing ini menegaskan hilirisasi masih bergantung pada rantai pasok global, terutama untuk komoditas mineral yang terhubung ke pasar baterai dan kendaraan listrik.

Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara Jadi Pusat Modal Hilirisasi

Dari sisi wilayah, Sulawesi Tenggara memimpin dengan realisasi Rp56,1 triliun, disusul Maluku Utara Rp53,9 triliun, dan Jawa Barat Rp25,8 triliun. Dua provinsi pertama adalah kantong utama smelter nikel, sehingga aliran modal ke sana sejalan dengan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Pulau Jawa sendiri hanya menyerap Rp72,8 triliun atau 24,3%. Pola ini menunjukkan hilirisasi berbasis tambang bergerak mendekati lokasi tambang dan smelter, bukan ke pusat industri manufaktur di Jawa.

Nikel Pimpin Mineral dengan Rp71 Triliun, Bauksit Menyusul

Sektor hilirisasi mineral secara keseluruhan membukukan Rp206,5 triliun. Nikel merajai daftar dengan Rp71,0 triliun, didorong pengolahan bijih nikel menjadi material katoda dan anoda hingga sel baterai untuk pasar global.

  • Nikel: Rp71,0 triliun
  • Bauksit: Rp53,8 triliun, dari penambangan hingga aluminium di dalam negeri
  • Tembaga: Rp37,4 triliun, termasuk smelter desain lini tunggal terbesar di dunia di Gresik
  • Besi baja: Rp30,2 triliun
  • Pasir silika: Rp5,9 triliun, berpotensi jadi solar-grade silicon untuk panel surya
  • Komoditas lain (timah, emas, perak, kobalt, mangan, batubara, LTJ): Rp8,2 triliun

Bauksit menempati posisi kedua karena integrasi rantai pasok dari penambangan, pemurnian menjadi smelter grade alumina (SGA), sampai pengolahan aluminium dalam negeri. Langkah ini ditujukan untuk menghemat devisa impor aluminium.

Sawit dan Kayu Log Dominasi Hilirisasi Non-Mineral

Komoditas perkebunan dan kehutanan menghimpun realisasi Rp54,4 triliun. Kelapa sawit memimpin dengan Rp29,5 triliun, ditopang ekspansi pengolahan crude palm oil (CPO) menjadi produk pangan, energi terbarukan, hingga bahan baku kosmetik.

Kayu log berada di angka Rp16,3 triliun, diarahkan ke produksi kayu lapis, veneer, pulp dan kertas, serta furnitur. Penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) menjadi syarat agar produk tetap diterima di pasar Eropa dan Amerika Serikat. Karet melengkapi dengan Rp5,0 triliun.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Industri

Porsi 29,7% terhadap total investasi nasional menempatkan hilirisasi sebagai salah satu mesin utama penanaman modal. Bagi investor saham, aliran modal ke nikel dan bauksit relevan dipantau karena menentukan utilisasi smelter dan permintaan bijih dari emiten tambang.

Ketergantungan pada PMA sebesar 70,9% menyisakan risiko terhadap pergerakan kurs dan kebijakan negara asal modal. Sementara itu, realisasi di luar Jawa yang mencapai 75,7% menandakan infrastruktur pendukung di Sulawesi dan Maluku menjadi kunci kelanjutan proyek tahap berikutnya.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: goodstats.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks