JAWA TENGAH — PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menguji co-firing hidrogen di PLTDG Pesanggaran hingga capaian 23 persen, bagian dari rangkaian Hydrogen Day 2026 pada 10–11 Oktober 2026. Uji coba ini menjadi salah satu fondasi pengembangan ekosistem hidrogen nasional yang tengah dipetakan lewat Roadmap Hidrogen dan Amonia Nasional 2025–2060.
Paragraf pembuka: Perusahaan listrik negara itu tidak berhenti pada satu fasilitas pengisian bahan bakar hidrogen. Kepala Satuan Technology Development PLN Indonesia Power Budhi Setiawan menyebut perusahaan telah menyiapkan Hydrogen Refueling Station (HRS) Senayan, menguji co-firing hidrogen di PLTDG Pesanggaran, dan mengembangkan co-firing amonia di PLTU Labuan. Ketiganya jadi bahan evaluasi potensi teknologi rendah karbon sebelum masuk skala lebih besar.
Dari Senayan ke Bandung, dari Jakarta ke Kampus ITB
Rangkaian Hydrogen Day 2026 bertema "Driving the Future with Hydrogen" dibuka dengan konvoi kendaraan hidrogen dari Jakarta menuju Bandung. Titik keberangkatan berada di HRS Senayan, fasilitas yang oleh pemerintah disebut sebagai cikal bakal Hydrogen Center Indonesia.
Pusat kegiatan hari berikutnya berada di Institut Teknologi Bandung. Di kampus itu, PLN Indonesia Power memamerkan kendaraan hidrogen dan menggelar sejumlah aktivitas untuk memperkenalkan teknologi ini ke publik. Pilihan ITB bukan tanpa alasan: pengembangan hidrogen butuh pasokan riset dan sumber daya manusia yang paham teknologi sel bahan bakar.
HRS Senayan Disebut Fondasi Hydrogen Center
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyoroti peran HRS Senayan dalam peta pengembangan hidrogen nasional. Menurut dia, fasilitas itu baru tahap awal.
"HRS Senayan menjadi langkah awal dalam membangun Hydrogen Center yang diharapkan dapat terus dikembangkan untuk memperkuat ekosistem hidrogen nasional. Ke depan, kolaborasi berbagai pihak diperlukan agar pemanfaatan hidrogen semakin luas dan mampu mendukung percepatan transisi energi di Indonesia," ujar Eniya Listiani Dewi.
Pernyataan itu menegaskan satu hal: infrastruktur pengisian hidrogen belum akan berdiri sendiri. Butuh kebijakan pendukung, kesiapan teknologi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar pemanfaatannya melebar dari kendaraan uji coba ke penggunaan sehari-hari.
Soal Keekonomian Jadi Catatan Dewan Energi Nasional
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani mengapresiasi inovasi PLN Group di sektor hidrogen. Namun ia menekankan pentingnya riset berkelanjutan agar tingkat keekonomian teknologi ini memadai, bukan sekadar proyek percontohan.
"Pengembangan hidrogen menjadi bagian penting dalam diversifikasi energi, termasuk di sektor transportasi. Dengan adanya peta jalan nasional, konsistensi dan komitmen seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mempercepat pengembangan serta pemanfaatan hidrogen dalam mendukung ketahanan dan transisi energi Indonesia," ujar Sripeni.
Catatan itu bersambung dengan implementasi Roadmap Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN) 2025–2060. Peta jalan tersebut menuntut sinergi pemerintah, BUMN, industri, dan akademisi agar pengembangan hidrogen tidak berhenti di tahap uji coba.
Hidrogen Dinilai Satu Opsi, Bukan Satu-satunya Jalan
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menempatkan hidrogen sebagai salah satu opsi teknologi untuk mendekarbonisasi sektor energi, bukan solusi tunggal. Perusahaan, kata dia, tetap mempertimbangkan keandalan, keekonomian, dan kesiapan implementasi.
"PLN Indonesia Power memandang hidrogen sebagai salah satu opsi teknologi yang berpotensi mendukung transisi energi, baik melalui pengembangan infrastruktur maupun eksplorasi pemanfaatannya di sektor pembangkitan. Kami terus mendorong inovasi, riset, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar pengembangan teknologi ini dapat dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan aspek keandalan, keekonomian, dan keberlanjutan," ujar Bernadus Sudarmanta.
Budhi menambahkan, eksplorasi itu mencakup pemanfaatan hidrogen di sektor pembangkitan dan transportasi. "Melalui pengembangan Hydrogen Refueling Station (HRS) Senayan, uji coba co-firing hidrogen di PLTDG Pesanggaran, serta pengembangan co-firing amonia di PLTU Labuan, kami berupaya mendorong inovasi dan meningkatkan kesiapan teknologi hidrogen," ujarnya.
Penutup: Bagi PLN Indonesia Power, Hydrogen Day 2026 lebih soal menyiapkan kesiapan teknologi ketimbang mengklaim hasil komersial. Capaian co-firing hidrogen 23 persen di Pesanggaran dan uji amonia di Labuan akan jadi ukuran apakah hidrogen benar-benar masuk bauran energi nasional dalam beberapa tahun ke depan.