SALATIGA — Grand launching logo baru dan aplikasi SIGAP digelar dengan dihadiri Wali Kota Salatiga Robby Hernawan, Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit, Sekda sekaligus Dewan Pengawas Perumda Air Minum Muthoin, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, mitra kerja, hingga perwakilan pelanggan dari 23 kelurahan.
Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Salatiga Imron Cahyadi menegaskan perubahan identitas perusahaan bukan sekadar seremoni. Menurut dia, logo baru menjadi penanda arah menuju perusahaan yang lebih profesional, adaptif, inovatif, dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Logo baru Perumda Air Minum lahir melalui sayembara yang digelar sejak 19 Juni 2026 dengan total hadiah Rp10 juta. Sebanyak 167 peserta dari seluruh Indonesia lolos verifikasi administrasi.
Penjurian melibatkan lima juri, yakni Wali Kota Robby Hernawan, Ketua DPRD Dance Ishak Palit, Imron Cahyadi, akademisi Anthony Y.M. Tumimomor, serta desainer grafis Tri Asih Munaji. Seleksi berjalan melalui sejumlah tahapan hingga mengerucut menjadi lima besar.
Karya Aditya Sapta Aji asal Yogyakarta ditetapkan sebagai juara pertama. Posisi juara kedua diraih Andreans Endhi Winanto asal Semarang, sedangkan juara ketiga diraih Achyal Munif dari Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Perumda Air Minum membarengi pergantian logo dengan peluncuran SIGAP. Aplikasi ini dirancang membuat komunikasi dengan pelanggan lebih cepat, terutama saat terjadi gangguan distribusi air, kebocoran pipa, pekerjaan perbaikan jaringan, maupun persoalan pelayanan lainnya.
Melalui SIGAP, pelanggan dapat menyampaikan pengaduan secara lebih tertata. Setiap laporan terdokumentasi dan diteruskan kepada petugas atau unit terkait, sehingga penanganannya diharapkan lebih cepat, terarah, dan mudah dipantau.
Imron menegaskan keberhasilan SIGAP tidak diukur dari banyaknya pengguna maupun jumlah laporan yang masuk. Ukuran sebenarnya adalah seberapa cepat perusahaan merespons persoalan dan seberapa banyak pengaduan yang mampu diselesaikan.
"Karena itu, pengaduan pelanggan justru menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan," kata Imron.
Bagi warga Salatiga, kanal pengaduan baru ini menjadi jalur resmi melaporkan gangguan air tanpa harus datang ke kantor Perumda. Laporan yang terdokumentasi juga memudahkan pelanggan memantau tindak lanjut atas persoalan yang mereka sampaikan.