SUKOHARJO — Persiharjo Sukoharjo harus mengakhiri langkahnya di kancah nasional. Tim kebanggaan warga Sukoharjo itu tersingkir di babak 32 besar Liga 4 Nasional Piala Presiden 2026. Kepastian ini menutup peluang mereka untuk melaju ke fase berikutnya.
Pelatih kepala Persiharjo, Dwi Joko Prihatin, buka suara mengenai masa depannya di klub. Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada manajemen Laskar Honggopati.
Pelatih Apresiasi Perjuangan Tim di Tengah Keterbatasan
Meski tersingkir, Dwi Joko memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pemain. Menurutnya, perjuangan anak asuhnya di kompetisi musim ini patut diacungi jempol.
“Saya sangat mengapresiasi perjuangan tim. Mereka sudah bekerja keras dan memberikan segalanya,” ujar Dwi Joko dalam pernyataannya.
Keputusan Ada di Tangan Manajemen Klub
Soal kelanjutan kariernya sebagai nahkoda Persiharjo, Dwi Joko memilih tidak berspekulasi. Ia menyerahkan evaluasi akhir musim kepada manajemen klub.
“Untuk masa depan, saya serahkan sepenuhnya kepada manajemen. Apapun keputusan nanti, saya akan menerimanya dengan lapang dada,” tambahnya.
Keputusan ini menjadi agenda penting dalam rapat evaluasi internal Persiharjo Sukoharjo dalam waktu dekat. Manajemen klub belum memberikan pernyataan resmi terkait nasib pelatih berusia 45 tahun tersebut.
Apa Langkah Persiharjo Setelah Tersingkir dari Liga 4?
Kepercayaan terhadap Dwi Joko Prihatin akan menjadi bahan pertimbangan utama untuk persiapan musim depan. Manajemen dipastikan melakukan pembenahan di beberapa lini guna memperbaiki performa tim.
Persiharjo Sukoharjo dikenal sebagai salah satu klub yang disegani di level provinsi Jawa Tengah. Dukungan suporter setia Laskar Honggopati diharapkan menjadi motivasi bagi tim untuk bangkit pada kompetisi mendatang.
Dwi Joko Prihatin: Sosok di Balik Laskar Honggopati
Nama Dwi Joko Prihatin bukan sosok asing di sepak bola Jawa Tengah. Sebagai pelatih, ia membangun skuad Persiharjo dengan mengedepankan disiplin dan kerja keras. Kini, publik Sukoharjo menanti keputusan manajemen: tetap mempertahankan sang pelatih atau memulai babak baru dengan nahkoda yang berbeda.