Pencarian

Festival To’dok Tellok Karimunjawa Bagi 6.474 Telur Hias, Empat Suku Larut dalam Peringatan Maulid Nabi

Rabu, 26 Agustus 2026 • 07:31:01 WIB
Festival To’dok Tellok Karimunjawa Bagi 6.474 Telur Hias, Empat Suku Larut dalam Peringatan Maulid Nabi
Festival To’dok Tellok 2026 di Karimunjawa membagikan 6.474 telur hias kepada warga dan wisatawan.

JEPARA — Sebanyak 6.474 telur rebus yang dihias buah-buahan menjadi pusat perayaan Festival To’dok Tellok 2026 di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Selasa (25/8/2026). Tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Bugis ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Ketua Panitia Festival To’dok Tellok 2026, Ahmad Saiful Rijal, menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai dengan ritus keagamaan di masjid. Setelah selesai sekitar pukul 10.00 WIB, telur-telur tersebut mulai dibagikan kepada warga, kemudian dilanjutkan ke Dermaga Karimunjawa untuk para wisatawan.

Filosofi Telur dan Tusukan Bambu

Telur yang ditusukkan pada batang bambu bukan sekadar hiasan. Ahmad menyebut susunan tersebut memiliki makna mendalam: telur menggambarkan bumi yang ditempati manusia, sedangkan tusukannya menjadi simbol Nabi Muhammad SAW yang membawa risalah di bumi.

Sebagian telur juga dihias menggunakan buah-buahan seperti apel, jeruk, hingga pir. Arak-arakan peserta dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dari masjid menuju Alun-alun Dukuh Batulawang.

Empat Suku di Karimunjawa Terlibat

Festival tahun ini melibatkan sekitar seribu orang. Tidak hanya masyarakat Bugis, warga dari suku Jawa, Madura, dan Bajo yang tinggal di Karimunjawa turut berpartisipasi dalam seluruh rangkaian acara.

“Peserta paling inti itu saat albarzanji dan pembagian telur. Ada empat suku yang ikut, Madura, Jawa, Bajo, dan Bugis,” ujar Ahmad.

Keterlibatan berbagai suku disebut menjadi bagian yang ingin terus dipertahankan. To’dok Tellok dinilai bukan hanya tradisi masyarakat Bugis, tetapi juga ruang berkumpul dan berbagi bagi seluruh warga Karimunjawa.

Arak-arakan Dimaknai seperti Perjalanan Hijrah

Ahmad menjelaskan, arak-arakan dalam festival ini memiliki kaitan dengan perjalanan Nabi Muhammad SAW saat hijrah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, beliau disambut dengan bacaan seperti Thala’al Badru atau albarzanji.

Setelah arak-arakan tiba di Alun-alun Dukuh Batulawang, acara dilanjutkan dengan penyambutan tamu undangan. Para tamu disuguhi ka’dok, makanan khas Bugis yang dibuat oleh sesepuh keturunan Bugis di Kemujan.

“Filosofi arak-arakannya seperti Kanjeng Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Ketika sampai di Madinah, beliau disambut dengan ramah, dengan bacaan seperti Thala’al Badru atau albarzanji,” katanya.

Harapan Pelestarian Tradisi

Tamu undangan kemudian dipersilakan bergabung dalam kegiatan albarzanji sebelum acara ditutup. Di sela-sela kegiatan, panitia juga membagikan kupon dan menggelar undian doorprize untuk peserta.

Meski menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi, Ahmad menegaskan To’dok Tellok merupakan tradisi khas masyarakat Bugis yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ia berharap tradisi ini tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, tetapi terus dikenal dan melekat dalam kehidupan masyarakat Kemujan.

“Harapannya ke depan tradisi ini bisa terus diuri-uri, dilestarikan dan menjadi tradisi yang melekat di masyarakat,” pungkasnya.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglojateng.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks