KENDAL — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Sudipayung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, mulai meninggalkan metode pemasaran tradisional. Lima usaha kini tercatat memiliki identitas visual dan lokasi digital setelah didampingi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) Ke-22 Posko 209 UIN Walisongo Semarang.
Program yang berlangsung pada 25 Agustus 2026 ini menyasar Keripik Batrisya, Batagor, Mi Ayam 3 Putri, Mie Ayam Mundhu, dan usaha sate milik Ibu Tulupi. Bentuk bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing usaha.
Dua Masalah Utama yang Ditemukan di Lapangan
Pendampingan ini berawal dari survei yang dilakukan mahasiswa sebelum program dijalankan. Hasilnya, ditemukan dua persoalan utama yang menghambat perkembangan usaha warga.
Pertama, sebagian besar pelaku UMKM belum memiliki banner atau papan nama usaha. Kedua, lokasi usaha mereka tidak tercantum di Google Maps, sehingga sulit ditemukan pembeli yang mengandalkan navigasi digital.
Keripik Batrisya milik Ibu Solihatul menerima bantuan berupa stiker dan pendaftaran lokasi di Google Maps. Sementara itu, usaha Batagor mendapat bantuan pendaftaran Google Maps, dan Mi Ayam 3 Putri memperoleh banner.
Adapun Mie Ayam Mundhu serta usaha sate milik Ibu Tulupi mendapatkan banner sekaligus pendaftaran lokasi usaha di Google Maps.
Pengakuan Pelaku Usaha: Jualan Biasa Tanpa Media Sosial
Ibu Tulupi, yang telah menjalankan usaha sate ayam selama dua tahun, mengaku pemasaran produknya selama ini hanya mengandalkan penjualan langsung. Ia belum pernah menggunakan media sosial untuk mempromosikan dagangannya.
“Pemasarannya jualan tidak ada. Belum ada Facebook, belum ada media sosial lainnya. Cuma jualan biasa,” ujar Ibu Tulupi.
Kondisi serupa dialami Ibu Solihatul, pemilik Keripik Batrisya. Menurutnya, produk keripik yang ia buat selama ini dipasarkan dari tangan ke tangan tanpa memanfaatkan platform seperti Facebook maupun Instagram.
“Pokoknya manual saja, pokoknya ada barang, ada uang,” ungkap Ibu Solihatul.
Proses Pendampingan dan Pemasangan Langsung
Mahasiswa KKN melaksanakan program ini selama lima hari. Pada tahap pelaksanaan, mereka mendatangi langsung lokasi masing-masing UMKM untuk memasang banner dan stiker yang telah dibuat.
Untuk empat usaha yang menerima bantuan Google Maps, mahasiswa membantu proses pendaftaran lokasi yang sebelumnya belum tercantum di layanan tersebut. Hal ini diharapkan memudahkan calon pembeli menemukan lokasi usaha.
Ibu Tulupi mengaku senang dengan bantuan yang diberikan. Ia menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang atas pendampingan yang telah dilakukan.
Ibu Solihatul, yang mengerjakan seluruh proses produksi secara mandiri—mulai dari mencari bahan, mengolah, mengemas, hingga memasarkan—menyesuaikan jumlah produksinya dengan keterbatasan tenaga yang dimiliki. Adanya identitas usaha dan lokasi digital diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran tanpa harus menambah beban kerjanya secara signifikan.