JAWA TENGAH — Lahan gambut menjadi tantangan terbesar dalam proses pemadaman. Material gambut yang tebal membuat api mudah menyebar di bawah permukaan tanah dan sulit terdeteksi dari udara.
Kenapa Api di Gambut Sulit Dipadamkan?
Karakteristik lahan gambut yang mampu menyimpan panas dalam waktu lama membuat upaya pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan water bombing dari udara. Petugas harus melakukan pembasahan secara manual dan merata ke seluruh titik api.
Kondisi ini diperparah dengan cuaca panas yang melanda wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa pekan terakhir. Titik panas di lahan gambut kerap muncul kembali setelah permukaan atas terlihat padam.
Strategi Pemadaman yang Ditempuh Petugas
Tim gabungan menerjunkan personel ke lokasi kebakaran dengan membawa peralatan pemadam seperti pompa air dan alat penyemprot. Penyekatan kanal atau sekat bakar juga dilakukan untuk mencegah meluasnya area yang terbakar.
BPBD Kubu Raya berkoordinasi dengan Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan untuk mempercepat proses pemadaman. Upaya pembasahan dilakukan secara bergiliran selama 24 jam nonstop.
Masyarakat di sekitar lokasi kebakaran diminta waspada terhadap kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan. Dinas Kesehatan setempat mengimbau warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Ancaman Kabut Asap dan Dampaknya
Kabut asap akibat karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara di wilayah Kubu Raya dan sekitarnya. Jika tidak segera teratasi, jarak pandang bisa berkurang dan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Supadio, Pontianak.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan arah angin di wilayah Kalimantan Barat bertiup dari tenggara menuju barat laut. Pola ini berpotensi membawa asap ke wilayah perkotaan Pontianak dan sekitarnya.
Karhutla di Kalimantan Barat merupakan persoalan tahunan yang kerap muncul pada musim kemarau. Pemerintah daerah terus mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat berujung pada sanksi pidana.