JOMBANG — Arwani Thomafi, Mustasyar PWNU DKI Jakarta sekaligus mantan anggota DPR tiga periode, merinci lima pedoman yang ia sebut sebagai "Madarij al-Khidmah" atau tingkatan pengabdian. Paparan ini disampaikan di hadapan peserta diskusi yang juga dihadiri Komisaris Utama PT ASDP Achmad Baidowi, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV Arya Sandiyudha, serta akademisi UNU Surabaya Mustafa.
Menurut Arwani, kelima nilai itu harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya agar khidmah di NU tidak berhenti pada kepentingan internal organisasi, tetapi meluas untuk masyarakat dan bangsa.
1. Keikhlasan: Fondasi Utama Pengabdian
Arwani menempatkan keikhlasan sebagai energi utama dalam setiap bentuk khidmah. Nilai ini berlaku tidak hanya di lingkungan organisasi, tetapi juga dalam keluarga, pesantren, masyarakat, hingga pemerintahan.
"Ikhlas merupakan niat hati yang murni dan tulus untuk melakukan suatu pekerjaan atau ibadah hanya semata karena mencari ridha Allah SWT," ujarnya dalam keterangan yang dikutip RRI.
2. Aswaja sebagai Pedoman Bersikap
Pedoman kedua adalah menjadikan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai landasan berpikir dan bertindak. Arwani menjelaskan, prinsip ini tercermin dalam empat sikap utama: tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), i'tidal (berkeadilan), dan tasamuh (toleransi).
Keempat prinsip itu dinilai penting untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis di tengah keberagaman. Dengan landasan ini, pengabdian diharapkan tidak berjalan ekstrem, melainkan mengedepankan keseimbangan dan keadilan.
3. Ulama sebagai Pembimbing Arah Perjuangan
Nilai ketiga menempatkan ulama pada posisi strategis sebagai rujukan moral dan penentu arah perjuangan umat. Arwani mengutip prinsip "Al ulama yursyiduna al-masirah" yang berarti para ulama membimbing arah perjalanan perjuangan umat.
Menurut Arwani yang juga Ketua Ma'arif NU Cabang Lasem, Rembang, bimbingan ulama diperlukan agar gerak pengabdian tetap berada dalam koridor nilai-nilai keagamaan dan kemaslahatan.
4. Menjaga Ukhuwah untuk Merawat Kebersamaan
Arwani menyebut ukhuwah sebagai modal sosial yang penting untuk membangun kedamaian dan memperkokoh persatuan. Nilai ini juga membuka ruang kerja sama dalam berbagai bentuk kebaikan.
"Ukhuwah menjadi modal sosial untuk merawat kebersamaan di tengah perbedaan," ucapnya.
5. Hubbul Wathon: Nasionalisme sebagai Energi Pengabdian
Nilai terakhir yang ditekankan adalah memperkuat semangat nasionalisme atau hubbul wathon. Arwani menilai kecintaan kepada tanah air harus menjadi energi untuk memperluas ruang pengabdian.
"Hubbul Wathon Tuwassi'u al-Khidmah," katanya, yang berarti cinta tanah air memperluas khidmah. Dengan demikian, pengabdian tidak hanya berorientasi pada kepentingan internal, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat dan Indonesia.
Arwani berharap kelima nilai ini dapat menghidupkan semangat ber-NU sebagai bentuk pengabdian yang tulus, moderat, mengedepankan persatuan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Ia mengingatkan agar nilai-nilai tersebut terus diaktualisasikan, bukan sekadar menjadi wacana di forum resmi.