Pencarian

Buku Baru Ungkap Zuckerberg dan Bezos Berebut Hati Trump Usai Pilpres AS

Senin, 31 Agustus 2026 • 11:11:01 WIB
Buku Baru Ungkap Zuckerberg dan Bezos Berebut Hati Trump Usai Pilpres AS
Buku baru mengungkap upaya Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos mendekati Donald Trump pasca-Pemilu AS 2024.

JAWA TENGAH — Hubungan antara industri teknologi Amerika Serikat dan kekuatan politik di Washington memasuki babak yang rumit. Buku terbaru berjudul Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump melaporkan bahwa dua tokoh paling berpengaruh di Silicon Valley, Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos, berusaha keras membangun kedekatan dengan Trump pasca-Pemilu 2024. Namun, usaha itu tidak selalu diterima dengan lapang dada.

Peta Kekuatan Teknologi di Hadapan Kekuasaan

Berbeda dengan sikap bermusuhan pada 2016, para eksekutif teknologi besar kini bergerak cepat mendekati pemerintahan Trump. Periode transisi kekuasaan itu dimanfaatkan Zuckerberg dan Bezos melalui pertemuan, pesan pribadi, dan diskusi informal. Buku tersebut menggambarkan keduanya sebagai tokoh paling aktif dalam upaya diplomasi korporat ini.

Sikap ini berbanding terbalik dengan era kampanye pertama Trump. Sebelumnya, Silicon Valley cenderung menentang kebijakan imigrasi dan retorika politik Trump yang kontroversial.

Cara Zuckerberg dan Bezos Mendekat

Langkah pendekatan Mark Zuckerberg sempat menjadi sorotan dalam buku ini. Salah satu kejadian yang diungkap melibatkan Zuckerberg yang mengirimkan pesan teks kepada Trump berisi foto catatan tulisan tangan dari anaknya yang masih kecil. Catatan itu kabarnya mengandung frasa "golden age of America", yang sangat identik dengan pesan kampanye Trump.

Di sisi lain, Jeff Bezos mengambil pendekatan berbeda. Dalam sebuah jamuan makan malam di Mar-a-Lago, Bezos justru mengkritik surat kabar miliknya sendiri, The Washington Post. Ia menyebut operasional media itu sulit dikelola dibandingkan perusahaan lainnya. Trump pun merespons dengan mengatakan bahwa surat kabar tersebut tidak adil, dan Bezos sepakat sambil mengungkapkan rasa frustrasinya.

Perhitungan Strategis di Balik Manuver

Buku itu mencatat bahwa Trump kerap membicarakan para pemimpin teknologi dalam percakapan pribadi dengan nada meremehkan. Ia mencontohkan bagaimana para eksekutif itu berusaha merebut hatinya dengan cara yang berlebihan dan penuh perhitungan. Bahkan, Elon Musk yang hadir dalam sejumlah diskusi disebut menanggapi komentar Trump dengan menyebutnya sebagai "aksi menjilat kelas kakap".

Kedekatan dengan kekuasaan bukan tanpa agenda. Pada tahun 2025, Bezos bertemu Trump di Gedung Putih dan melontarkan kekhawatiran tentang ketergantungan operasi antariksa AS pada SpaceX milik Elon Musk. Ia menilai kontrak yang hanya diberikan pada satu kontraktor menimbulkan risiko keamanan nasional. Usulan ini tentu dapat membuka jalan bagi perusahaan Bezos, Blue Origin, meski hingga kini tidak ada tindak lanjut resmi yang diambil.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Zuckerberg, Bezos, maupun Trump mengenai kisah-kisah yang ditulis dalam buku tersebut. Namun, laporan ini memberikan gambaran tentang bagaimana perusahaan teknologi kini menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan peta politik yang berubah cepat. Bagi pelaku industri digital, dinamika ini menjadi catatan penting tentang risiko dan peluang di balik kolaborasi dengan kekuasaan.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks