IHSG Diproyeksi Konsolidasi di 6.000–6.215 Pekan Ini, Asing Masih Net Sell Rp 2,44 Triliun

Penulis: Budi Santoso  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 08:07:32 WIB
IHSG ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,76 pada Jumat (9/10/2026).

JAWA TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidatif pada rentang 6.000–6.215 sepanjang periode 12–16 Oktober 2026, dengan peluang rebound menuju 6.227–6.231 jika momentum teknikal bertahan. Proyeksi itu muncul setelah IHSG menguat 0,94 persen dalam sepekan ke 6.093,76, meski investor asing membukukan jual bersih sekitar Rp 2,44 triliun.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menyebut arah indeks pekan ini akan ditentukan kemampuan IHSG mempertahankan momentum teknikalnya. Level 5.973 menjadi garis pemisah antara skenario lanjutan rebound dan risiko koreksi lebih dalam.

"Dalam skenario bullish, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area penutupan gap di 6.227–6.231. Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai," kata Brigita dalam risetnya, Senin (12/10/2026).

Level Kunci yang Menentukan Arah IHSG Pekan Ini

Dari sisi teknikal, IHSG menutup perdagangan Jumat (9/10/2026) di level 6.093,76 atau menguat 1,04 persen, bertahan di atas level psikologis 6.000 dan garis MA3. Dalam skala mingguan, indeks naik 0,94 persen atau 56,87 poin dari posisi 6.036,89 pekan sebelumnya, dengan rentang pergerakan 5.995–6.216.

Zona 6.008–6.025 menjadi area koreksi jangka pendek yang perlu dicermati, dengan support terdekat di 6.018. Penembusan resistance 6.215 berpotensi membuka ruang penguatan menuju 6.297.

Indikator momentum memperlihatkan histogram negatif MACD yang terus menyempit, tanda tekanan jual mulai mereda. Meski begitu, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot menahan laju penguatan jangka pendek. Pemulihan tren jangka menengah juga belum terkonfirmasi karena indeks belum menembus MA20.

Asing Lepas GOTO dan BBCA, Incar ULTJ hingga MEDC

Selama pekan perdagangan 5–9 Oktober 2026, kapitalisasi pasar BEI naik 0,69 persen menjadi Rp 10.701 triliun dari Rp 10.627 triliun. Arus dana asing justru keluar, dengan net foreign sell sekitar Rp 2,44 triliun.

Saham yang paling banyak diburu asing:

  • ULTJ: Rp 111,5 miliar
  • MEDC: Rp 48,5 miliar
  • EMAS: Rp 42,1 miliar

Sebaliknya, tiga saham yang paling banyak dilepas asing:

  • GOTO: Rp 663,2 miliar
  • BBCA: Rp 293,5 miliar
  • BMRI: Rp 235,6 miliar

Dari sisi likuiditas, rata-rata volume transaksi harian turun 7,62 persen menjadi 46,53 miliar saham dan frekuensi transaksi melemah 0,27 persen ke 1,67 juta kali. Rata-rata nilai transaksi harian melesat 28,52 persen menjadi Rp 16,23 triliun.

Tekanan Global: Yield US Treasury dan Risiko Selat Hormuz

Brigita menilai pergerakan pasar global sepanjang pekan lalu diwarnai volatilitas saham teknologi, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, dan risiko geopolitik. Wall Street sempat bervariasi akibat tekanan pada saham teknologi terkait proyeksi pendapatan OpenAI serta kenaikan yield US Treasury.

"Pergerakan pasar global sepanjang pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan risiko geopolitik," kata dia.

Sentimen membaik pada Jumat (9/10/2026) ketika Dow Jones naik 0,83 persen, S&P 500 menguat 0,59 persen, dan Nasdaq naik 0,64 persen, didukung pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan pasar obligasi. Yield US Treasury 10Y bertahan di level tinggi meski terkoreksi usai lelang obligasi AS mendapat permintaan kuat.

Di pasar komoditas, harga minyak WTI bergerak volatil akibat risiko geopolitik di Selat Hormuz, isu militer AS-Iran, serta ancaman Badai Isaias di Teluk Meksiko, sebelum ditutup di USD 91,66 per barel pada Jumat (9/10/2026). Emas menguat 1,47 persen ke USD 4.193,9 per troy ounce. Batu bara Newcastle terkoreksi ke USD 148,85 per ton setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 23 bulan.

Stabilitas Domestik Jadi Penopang di Tengah Tekanan Eksternal

Dari dalam negeri, proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD) menjadi 1,5 persen PDB pada 2026 akibat impor energi masih menjadi perhatian pasar. Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 tercatat tetap optimistis di level 118,1, meski Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melandai ke 107,5.

"Perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG, tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung," ungkap Brigita.

Beberapa faktor penopang stabilitas domestik antara lain cadangan devisa sebesar USD 146,3 miliar, status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market oleh FTSE Russell, defisit APBN 1,24 persen PDB dengan keseimbangan primer surplus, serta komitmen efisiensi belanja pemerintah.

Komitmen Danantara untuk menambah investasi hingga USD 1 miliar sampai akhir 2026 juga berpotensi menyokong permintaan saham domestik, menjadi penyeimbang di tengah arus keluar dana asing yang masih berlanjut.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top