KEBUMEN — Pasokan air irigasi untuk pertanian Kebumen dialirkan lewat Saluran Induk Wadaslintang Timur (SIWT), Saluran Induk Wadaslintang Barat (SIWB), serta Bendung Bedegolan. Pengalokasian mulai berjalan sejak 1 Oktober 2026 dengan pola bertahap.
Peningkatan debit bukan tanpa alasan. Setelah melewati musim kemarau, saluran butuh digelontor untuk membersihkan sampah dan membasahi dinding saluran sebelum air dalam volume besar dialirkan ke lahan warga.
Angka debit yang dialokasikan bergerak naik sejak pintu air dibuka. Pada 1 Oktober, pasokan tercatat 7 meter kubik per detik. Hingga 20 Oktober, jumlahnya sudah sekitar 16,5 meter kubik per detik.
Petugas Operasi Bendung Pejengkolan, Eko Dian Ariyanto, menyebut penambahan berikutnya dijadwalkan Jumat (23/10/2026) menjadi 18 meter kubik per detik. Menurut dia, kenaikan debit akan terus diupayakan secara bertahap lewat koordinasi dengan pengelola bendungan dan instansi terkait.
"Kenaikan debit air pastinya akan kami usahakan, terbukti saat awal pintu air dibuka pada 1 Oktober sebesar 7 meter kubik per detik, hingga kini 20 Oktober totalnya sudah 16,5 meter kubik per detik," ujar Eko.
Pada dwiminggu pertama, 1 sampai 15 Oktober, aliran difokuskan untuk penggelontoran sampah dan pembasahan saluran. Setelah itu pasokan ke SIWT dan SIWB ditambah agar petani bisa melakukan olah tanah.
"Tanggal 1 Oktober itu tujuannya penggelontoran sampah dan pembasahan saluran setelah melewati musim kemarau. Itu dilakukan dalam dwiminggu pertama tanggal 1 sampai 15 Oktober," kata Eko, Selasa (20/10/2026).
Penambahan air di minggu kedua diarahkan agar masyarakat, terutama petani, bisa menyiapkan lahan memasuki MT I 2026/2027. Olah tanah menjadi tahap awal sebelum penanaman padi dilakukan.
Untuk menembus 24 meter kubik per detik, POB Pejengkolan mengandalkan koordinasi dengan Ketua Unit Pengelola Irigasi, Kepala Unit Pengelola Bendungan Wadaslintang, dan Kepala Bidang Operasi Bendung BBWS Serayu Opak.
"Harapannya besok sampai tanggal 31 Oktober sudah lebih dari 24 meter kubik per detik," ucap Eko.
Bagi petani Kebumen, kepastian debit air menentukan jadwal tanam. Pasokan yang cukup pada akhir Oktober memberi ruang olah tanah lebih awal, sehingga penanaman padi di Masa Tanam I bisa berjalan sesuai kalender musim.