Pencarian

IHSG Dibuka Merosot ke 6.584, Rupiah Terperosok ke Rp 17.630, Bursa Asia Ikut Tertekan

Senin, 18 Mei 2026 • 09:47:10 WIB
IHSG Dibuka Merosot ke 6.584, Rupiah Terperosok ke Rp 17.630, Bursa Asia Ikut Tertekan
IHSG dibuka melemah di angka 6.584 seiring tekanan jual yang masih dominan.

JAKARTA — Tekanan jual masih mendominasi pasar modal Indonesia pada awal pekan ini. IHSG dibuka langsung jatuh ke zona merah, melanjutkan tren pelemahan pada sesi preopening yang sudah turun 1,40 persen ke 6.628,976.

Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih tidak menentu. Sejak sesi preopening, IHSG sudah menunjukkan sinyal negatif dengan terkoreksi 94,344 poin, sebelum akhirnya makin dalam saat perdagangan resmi dimulai.

Rupiah Kian Tertekan, Sentuh Level Tertinggi dalam Sebulan Terakhir

Di pasar valuta asing, rupiah pagi ini diperdagangkan di level Rp 17.630 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB berdasarkan data Bloomberg. Angka ini menunjukkan pelemahan 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan rupiah memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Level Rp 17.630 menjadi titik terendah yang pernah disentuh rupiah dalam sebulan terakhir, mendekati level psikologis yang dikhawatirkan pelaku pasar.

Bursa Asia Ikut Merah, China Jadi Satu-satunya yang Hijau

Tekanan jual tidak hanya terjadi di Indonesia. Mayoritas bursa saham Asia pagi ini juga kompak bergerak di zona merah. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat turun 625,902 poin (1,02 persen) ke 60.783,398. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong melemah 274,500 poin (1,06 persen) ke 25.688,230.

Indeks Straits Times di Singapura juga tak luput dari tekanan, turun 16,089 poin (0,32 persen) ke 4.972,990. Satu-satunya bursa yang masih bertahan di zona hijau adalah Indeks SSE Composite di China yang menguat tipis 2,399 poin (0,06 persen) ke 4.137,790.

Apa yang Membebani Pasar Pagi Ini?

Pelemahan IHSG dan rupiah terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kenaikan suku bunga acuan global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih kuat membuat dolar AS terus perkasa terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pelaku pasar kini mencermati langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar. Sejumlah analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek, seiring dengan ekspektasi suku bunga tinggi di AS yang masih bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Bagikan
Sumber: kumparan.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks