SEMARANG — Ratusan siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Bina Amal mengikuti rangkaian Khotmil Qur’an dan Imtihan yang digelar di lingkungan sekolah, pekan lalu. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang dirancang sebagai uji kompetensi sekaligus syarat kelulusan bagi siswa kelas VI.
Berbeda dari ujian tertulis pada umumnya, para peserta harus membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an secara langsung di hadapan penguji dan publik. Prosesi ini berlangsung terbuka, disaksikan oleh wali murid dan dewan guru.
Mengapa Imtihan Digelar Terbuka?
Kepala SDIT Bina Amal menyebut bahwa metode ini sengaja dipilih untuk membangun kepercayaan diri siswa. “Anak-anak tidak hanya diuji hafalannya, tetapi juga mental dan kemampuannya tampil di depan orang banyak,” ujarnya.
Ia menambahkan, ujian terbuka juga menjadi bentuk transparansi kepada orang tua mengenai capaian akademik dan keagamaan anak-anak mereka selama enam tahun belajar.
Rangkaian Kegiatan: dari Setoran Hafalan hingga Sima’an
Proses Khotmil Qur’an dan Imtihan berlangsung dalam beberapa sesi. Setiap siswa menyetorkan bacaan juz tertentu yang telah dihafal, kemudian dilanjutkan dengan sima’an—yaitu menyimak dan membetulkan bacaan teman secara bergantian.
Para penguji yang terdiri dari guru tahfidz dan ustaz dari luar sekolah memberikan penilaian langsung. Aspek yang dinilai meliputi tajwid, makhraj huruf, serta kelancaran bacaan.
Dampak bagi Siswa dan Sekolah
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi siswa kelas VI sebelum mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Orang tua yang hadir tampak antusias menyaksikan anak-anak mereka membaca Al-Qur’an dengan lancar di depan umum.
Bagi pihak sekolah, agenda ini sekaligus menjadi tolok ukur keberhasilan program tahfidz yang diterapkan sejak kelas I. SDIT Bina Amal sendiri mewajibkan hafalan minimal juz 30 sebagai syarat kelulusan.