SEMARANG — PT Phapros Tbk tidak hanya mengejar pertumbuhan penjualan dua digit tahun depan. Perusahaan yang berkantor pusat di Semarang ini juga tengah mengembangkan produk obat inovatif berbentuk film yang bisa larut di mulut tanpa perlu air minum.
Produk dengan teknologi oral disintegrating film (ODF) itu disebut Direktur Produksi Phapros, Ida Rahmi Kurniasih, sebagai salah satu jawaban atas kebutuhan pasien akan kepraktisan. “Kami mengembangkan produk inovatif dalam bentuk film yang bisa langsung larut di mulut, lebih praktis untuk pasien,” katanya di sela acara media gathering bertajuk Merajut Harmoni, Menguatkan Kolaborasi di Pabrik Phapros Simongan, Semarang.
Efisiensi Produksi untuk Tekan Harga Obat
Inovasi tidak hanya soal produk baru. Ida menekankan bahwa perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement menjadi budaya wajib di sistem manajemen mutu perusahaan. Targetnya, efisiensi biaya produksi bisa ditekan sehingga harga obat lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Efisiensi itu bukan hanya bahan baku, tapi juga energi, waktu produksi, dan proses kerja. Semua terus kami perbaiki,” jelas Ida. Ia menambahkan, optimalisasi proses manufaktur berbasis digital juga menjadi salah satu pilar efisiensi yang tengah didorong.
Target Agresif 2026: Penjualan Tumbuh 20 Persen
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & SDM Phapros, Ferdinand Troedu, menyampaikan bahwa perusahaan telah menetapkan strategi pertumbuhan yang agresif namun tetap terukur untuk tahun 2026. “Kita targetkan pertumbuhan penjualan di atas 20 persen untuk tahun 2026, dan profit juga kita targetkan tumbuh double digit,” ujarnya.
Strategi itu, kata Ferdinand, akan didorong melalui penguatan efisiensi dan perbaikan berkelanjutan di seluruh lini produksi dan operasional perusahaan.
Pasokan Obat TB: Tidak Boleh Putus
Di sisi lain, Phapros juga memiliki peran strategis dalam program kesehatan nasional, terutama untuk pengadaan obat tuberkulosis (TB). Direktur Pemasaran Phapros, Maraja Jeson Siregar, menjelaskan bahwa perusahaan mengikuti mekanisme tender dari Kementerian Kesehatan sesuai kebutuhan nasional.
“Obat TB itu tidak boleh putus. Kalau sampai putus, pengobatan harus diulang dari awal, itu sangat berat bagi pasien,” jelas Maraja. Ia memastikan dalam beberapa tahun terakhir tidak terjadi kekosongan stok obat TB di pasaran karena proses pengadaan dan produksi berjalan stabil. “Alhamdulillah beberapa tahun terakhir tidak ada kekosongan, supply bisa terjaga dengan baik,” ungkapnya.
Dengan kombinasi target pertumbuhan agresif, inovasi produk, serta efisiensi produksi, Phapros optimistis dapat memperkuat posisi di industri farmasi nasional sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global pada 2026.