PEKALONGAN — Wali Kota Pekalongan Afzan Arskan Djunaid menyatakan kondisi Sungai Asem Binatur kini kritis. Pendangkalan akibat sedimentasi, sampah, dan tumbuhan liar membuat daya tampung air menurun drastis.
"Penanganan sungai tidak bisa hanya dilakukan pemerintah saja tetapi perlu dukungan dan partisipasi warga agar hasilnya lebih optimal," kata Afzan di Pekalongan, Sabtu.
Sepanjang 200 Meter Alur Sungai Dibersihkan
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan Betty Dahfiani menjelaskan sasaran pembersihan membentang 200 meter. Rinciannya, 50 meter ke arah selatan dan 150 meter ke arah utara dari jembatan dekat kelurahan.
Sebanyak 15 warga direkrut dari Kelurahan Medono melalui program padat karya. Mereka didukung 10 tenaga teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) serta aparat kelurahan.
Anggaran Padat Karya Berasal dari Usulan Kelurahan
Betty menambahkan kegiatan ini merupakan respons atas usulan langsung dari Kelurahan Medono. Program padat karya tidak hanya bertujuan membersihkan sungai, tetapi juga memberi kesempatan kerja sementara bagi warga yang belum memiliki pekerjaan.
"Dengan penanganan sedimentasi yang cukup tebal ini, kapasitas tampung air sungai meningkat sehingga dapat membantu mengurangi potensi genangan maupun banjir saat musim hujan," ujar Betty.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Normalisasi Berkelanjutan
Wali Kota Afzan menekankan normalisasi sungai harus berjalan berkelanjutan. Dukungan anggaran untuk mengangkat sedimentasi ke daratan menjadi faktor krusial agar hasil pembersihan tidak sia-sia.
"Kami berharap kolaborasi antara masyarakat, kelurahan, dan organisasi perangkat daerah terkait dapat terus diperkuat guna mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut," kata Afzan.
Harapannya, area tangkap air menjadi lebih luas dan aliran sungai kembali lancar. Langkah ini menjadi salah satu upaya nyata menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko banjir saat musim penghujan tiba.