SEMARANG — Ribuan anak dari keluarga prasejahtera di Jawa Tengah kini memiliki harapan baru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas. Program Sekolah Kemitraan yang digagas Pemprov Jateng bersama 139 sekolah swasta—terdiri dari 56 SMA dan 83 SMK—berhasil menampung 3.663 siswa pada tahun ajaran 2026/2027.
Dari Anak Ojek hingga Buruh Tani: Mereka yang Terselamatkan
Rafa Fidianto, putra seorang pengemudi ojek, sempat gagal diterima di sekolah negeri karena nilai tidak memenuhi syarat. Kini ia duduk di bangku SMA Laboratorium UPGRIS dan bercita-cita menjadi tentara. “Saya senang bisa sekolah di sini karena bisa mendapat banyak teman,” ujarnya saat berdialog dengan Gubernur Ahmad Luthfi.
Cerita serupa datang dari Kamdani, buruh tani dengan penghasilan tak menentu—Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari. Ia mengaku sempat khawatir tidak mampu membiayai pendidikan anak ketiganya. “Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan,” tuturnya.
Penerima program berasal dari latar belakang beragam: anak pedagang angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yatim yang diasuh kerabat.
Negara Hadir: “Sekolah Tidak Boleh Berhenti karena Ekonomi”
Ahmad Luthfi menegaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi alasan seorang anak kehilangan hak atas pendidikan. “Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” tegasnya di hadapan para siswa.
Gubernur juga berulang kali meminta siswa tidak merasa rendah diri. “Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat,” pesannya.
Peningkatan Signifikan: Dari 2.390 ke 3.663 Siswa
Jumlah penerima manfaat program ini naik drastis dibanding tahun ajaran sebelumnya. Rinciannya: 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK. Khusus di Kota Semarang, 51 siswa tersebar di tiga sekolah: SMA Laboratorium UPGRIS (24 siswa), SMK Bina Nusantara (21 siswa), dan SMK Ibu Kartini (6 siswa).
Pada kesempatan yang sama, Pemprov Jateng bersama Baznas menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah dan sepatu kepada 55 siswa serta paket sembako bagi orang tua siswa.
MPLS Tanpa Perpeloncoan: “Sekolah Harus Menyenangkan”
Selain akses pendidikan, Luthfi meminta seluruh sekolah menciptakan lingkungan belajar yang aman selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). “Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan,” tegasnya.
Ia berharap kesempatan yang diperoleh para siswa dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. “Kalian harus menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, mempunyai cita-cita yang luhur, serta mampu mengubah diri sendiri maupun keluarga menjadi lebih baik,” pungkasnya.