JAWA TENGAH — Di Kabupaten Cianjur, getaran dirasakan nyata pada skala III-IV MMI atau menyebabkan guncangan terasa di dalam rumah. Sementara di Kota Sukabumi, Nagrak, Warung Kondang, Cimahi, dan Cilaku, getarannya mirip seperti sensasi truk besar melintas. Kota Bandung, Sukaraja, hingga Cibubur masuk skala II MMI; dirasakan sebagian orang dan membuat benda-benda ringan bergoyang.
Wilayah Jakarta Paling Terdampak di Antara Zona Lain
Guncangan paling banyak dirasakan warga atau pekerja yang berada di dalam gedung-gedung bertingkat, khususnya di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Ini selaras dengan karakteristik gempa dangkal yang getarannya menyebar luas meski magnitudonya tergolong sedang.
Hartanto, Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang Selatan, dalam keterangan tertulisnya menyebut guncangan itu bahkan menjangkau Jabodetabek. Skala yang terasa di wilayah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pusat gempa, namun tetap terdeteksi oleh mereka yang berada di lantai atas.
Pemicu Gempa: Patahan Lokal yang Membentang di Cianjur
Pusat gempa berada di daratan Cianjur dengan kedalaman dangkal, sehingga dikategorikan sebagai shallow earthquake. Penyebab utamanya menurut BMKG adalah aktivitas sesar aktif lokal yang membentang di wilayah daratan tersebut.
"Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Aktif," ujar Hartanto, Selasa (1/9/2026).
Karakteristik gempa dangkal membuat getaran terasa cukup kuat dan menyebar, meskipun magnitudonya sekitar 4,4. Gempa terjadi pukul 17.53 WIB dan sejauh ini tercatat tidak ada aktivitas gempa susulan atau aftershock.
Belum Ada Kerusakan, BMKG Ingatkan soal Informasi Liar
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika belum mendapatkan laporan kerusakan bangunan akibat guncangan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terprovokasi isu yang belum terbukti kebenarannya.
Warga diminta memantau kanal informasi resmi BMKG untuk memperoleh pembaruan kebencanaan terkini. Hal ini menjadi penting karena gempa dangkal sebelumnya di wilayah yang sama kerap memicu kepanikan akibat berita yang tidak akurat.