SOLO — Degradasi Persis Solo ke Liga 2 musim depan memantik keprihatinan dari banyak kalangan, termasuk pelatih Persiharjo Sukoharjo, Dwi Joko. Ia menilai bahwa salah satu akar masalah yang membuat tim berjuluk Laskar Sambernyawa itu terpuruk adalah mulai hilangnya perhatian terhadap talenta lokal asli Solo Raya.
Menurut Dwi Joko, Persis Solo seharusnya tidak meninggalkan identitasnya sebagai klub yang lahir dari rahim masyarakat Solo. “Jangan sampai talenta lokal diabaikan. Mereka punya semangat dan ikatan emosional yang kuat dengan klub,” ujarnya saat ditemui di Sukoharjo, baru-baru ini.
Ia menambahkan, pemain lokal biasanya memiliki loyalitas lebih tinggi dan lebih cepat beradaptasi dengan tekanan suporter. Faktor inilah yang kerap menjadi pembeda ketika tim berada dalam situasi sulit.
Dwi Joko menekankan bahwa degradasi ini bukan sekadar soal hasil akhir di lapangan. Ia menilai ada masalah mendasar dalam perencanaan tim yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.
“Ini harus menjadi bahan evaluasi total. Bukan hanya soal pelatih atau pemain asing, tetapi juga bagaimana sistem pembinaan usia muda dikelola,” tegasnya. Ia mendorong manajemen Persis untuk kembali membuka mata terhadap potensi pemain dari kampung-kampung di sekitar Solo Raya.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen Persis Solo belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah strategis pasca-degradasi. Namun, sorotan dari tokoh sepak bola lokal seperti Dwi Joko menjadi tekanan tersendiri agar klub tidak sekadar fokus pada kebangkitan instan di Liga 2.
Pembenahan dari akar rumput, termasuk merevitalisasi akademi dan jaringan scouting pemain daerah, dinilai sebagai satu-satunya jalan agar Persis Solo bisa kembali berjaya dengan identitas yang otentik.