Pencarian

Rupiah Tembus Rp17.844 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Kebutuhan Valas Domestik

Senin, 01 Juni 2026 • 10:28:51 WIB
Rupiah Tembus Rp17.844 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Kebutuhan Valas Domestik
Rupiah melemah ke posisi Rp17.844 per dolar AS di tengah ketegangan Timur Tengah dan kebutuhan valas domestik.

JAWA TENGAH — Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah tercatat melemah 0,21 persen dibandingkan penutupan pekan lalu. Tekanan serupa juga dialami won Korea Selatan yang ambles 0,71 persen, diikuti baht Thailand (minus 0,17 persen) dan peso Filipina (minus 0,18 persen). Dari negara maju, franc Swiss menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,27 persen, sementara euro dan poundsterling juga tak berdaya melawan dolar AS.

Dua Beban Sekaligus: Geopolitik Global dan Siklus Domestik

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. "Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Lukman memperkirakan rentang pergerakan rupiah hari ini berada di Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Ia menambahkan, harga minyak mentah yang mulai menurun bisa menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah dalam jangka pendek.

BI Buka Suara: Intervensi Dilakukan Nonstop

Bank Indonesia (BI) sebelumnya mencatat tekanan terhadap rupiah kian terasa selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut ada dua faktor utama yang mendorong pelemahan. Pertama, berlanjutnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Kedua, meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman di dalam negeri.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan dalam pernyataan resmi pada Jumat (29/5).

BI mencatat lonjakan permintaan dolar AS terjadi untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS ke pasar domestik masih terbatas. Menghadapi situasi ini, bank sentral menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi di pasar.

"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.

Yang Perlu Dicermati Pekan Ini

Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan pada Selasa (2/6). Data ini akan menjadi sinyal awal bagi BI dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan. Jika inflasi terkendali dan surplus perdagangan terjaga, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda. Sebaliknya, data yang mengecewakan bisa memperkuat posisi dolar AS lebih lanjut.

Investasi mengandung risiko.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks