JAWA TENGAH — Phantom Twist tidak menggunakan cat atau pola khusus untuk menyembunyikan diri. Sebaliknya, drone ini memanfaatkan prinsip ilusi optik: ia memutar seluruh tubuhnya dengan kecepatan sangat tinggi.
Menurut tim peneliti, putaran 25 kali per detik sudah melampaui kemampuan mata manusia untuk menangkap bentuk benda secara jelas. Akibatnya, drone tersebut tampak seperti gumpalan semi-transparan yang menyatu dengan latar belakang langit atau pepohonan. Hasil pengujian menunjukkan Phantom Twist sepuluh kali lebih sulit dikenali dibandingkan drone quadcopter biasa.
Bagaimana Drone Bisa Terbang Stabil Sambil Berputar?
Desain Phantom Twist sangat berbeda dari drone konvensional. Quadcopter biasa menggunakan empat baling-baling yang berputar sementara badan drone tetap diam — mudah dikenali karena ada bagian yang statis. Phantom Twist justru membuang konsep itu.
Drone ini hanya punya satu motor dan satu baling-baling. Baling-baling berputar ke satu arah, sementara seluruh badan drone berputar ke arah sebaliknya. Tidak ada satu pun bagian yang diam, sehingga mata tidak punya titik acuan untuk fokus.
Tantangan terbesar adalah memastikan drone tetap stabil saat berputar cepat. Tim peneliti menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menemukan konfigurasi optimal. Mereka menguji sekitar 20.000 tata letak drone yang dihasilkan komputer, lalu menjalankan algoritma optimasi untuk mengatur posisi motor, baling-baling, papan sirkuit, baterai, dan pemberat agar tidak saling tumpang tindih secara visual saat berputar.
Setiap desain kandidat disimulasikan dengan 100 latar belakang foto asli dan dinilai menggunakan model yang meniru penglihatan manusia. Lima ratus desain dengan skor terendah kemudian disempurnakan lagi hingga akhirnya satu prototipe final siap dibuat.
Kelebihan dan Keterbatasan yang Perlu Diketahui
Phantom Twist memang sulit dilihat, tapi bukan berarti tanpa kelemahan. Baling-balingnya tetap mengeluarkan suara yang bisa didengar, meski tubuh drone nyaris tak tampak. Lebih penting lagi, prototipe saat ini belum dilengkapi kamera atau muatan pencitraan apapun.
Ini jadi pertanyaan besar: bagaimana drone bisa merekam gambar jika tubuhnya sendiri berputar 25 kali per detik? Dibutuhkan teknologi stabilisasi atau de-rotasi yang sangat canggih agar hasil rekaman bisa digunakan. Hingga kini, tim peneliti belum merinci bagaimana mereka akan mengatasi masalah ini.
Dari Laboratorium ke Dunia Nyata: Masih Jauh
Perlu ditegaskan bahwa Phantom Twist adalah prototipe riset universitas yang didanai National Science Foundation, bukan produk komersial yang punya tanggal rilis atau harga jual. Tujuan utama pengembangan ini adalah mengurangi gangguan terhadap satwa liar saat pemantauan, bukan untuk keperluan mata-mata atau privasi.
Meski potensi penyalahgunaan teknologi ini tidak bisa diabaikan, tim peneliti memastikan fokus mereka saat ini masih pada aplikasi konservasi dan inspeksi infrastruktur. Belum ada indikasi bahwa pendekatan badan berputar ini akan segera hadir di perangkat konsumen.