Pencarian

Databricks Kumpulkan Dana Rp 82 Triliun, Valuasi Tembus USD 190 Miliar

Jumat, 14 Agustus 2026 • 03:29:31 WIB
Databricks Kumpulkan Dana Rp 82 Triliun, Valuasi Tembus USD 190 Miliar
Databricks mengumumkan perolehan dana segar sebesar USD 5 miliar atau setara Rp 82 triliun, dengan valuasi perusahaan menembus USD 190 miliar.

JAWA TENGAH — Kesepakatan ini menarik karena jumlahnya jauh lebih besar dari rencana awal perusahaan. CEO dan salah satu pendiri Databricks, Ali Ghodsi, mengungkapkan bahwa permintaan investor yang luar biasa menjadi pemicu utama pembengkakan nilai pendanaan tersebut.

Dari Target USD 1 Miliar Menjadi USD 5 Miliar

Ghodsi menceritakan, awalnya perusahaan hanya berencana mengumpulkan dana sekitar USD 1 miliar. Namun, situasi berubah drastis setelah media teknologi The Information memberitakan rencana pendanaan besar ini di tengah konferensi perusahaan pada Juni lalu.

"Begitu artikel itu terbit, ada antrean panjang investor yang mulai menelepon. Ponsel saya tidak berhenti berdering. Ini waktu yang paling buruk bagi kami karena kami sibuk dengan konferensi," kenang Ghodsi kepada TechCrunch.

Minat yang masuk justru mencapai USD 15 miliar. Menolak sebagian investor lama berisiko merusak hubungan. Alhasil, Databricks memutuskan menerbitkan lebih banyak saham dan menaikkan target pendanaan menjadi USD 5 miliar.

Pendanaan Terbesar dan Daftar Investor

Putaran ini dipimpin oleh Coatue, dengan partisipasi dari Blackstone, MGX, berbagai akun yang terkait dengan T. Rowe Price, dan investor baru Sixth Street Growth. Total ada sekitar dua lusin venture capital yang disebut sebagai partisipan.

Dengan total dana segar ini, Databricks telah mengumpulkan USD 20 miliar hanya dalam 20 bulan terakhir. Perusahaan juga sempat mengumumkan penutupan pendanaan pada Juli lalu dengan valuasi USD 188 miliar, sebelum akhirnya naik ke angka USD 190 miliar pada pengumuman terbaru.

Kinerja Bisnis yang Moncer

Daya tarik Databricks di mata investor bukan tanpa alasan. Ghodsi mengklaim pendapatan tahunan berjalan (annualized run rate) perusahaan telah mencapai USD 7 miliar, tumbuh 80 persen dan sudah cash-flow positif.

Produk inti mereka, cloud data warehouse, menyumbang USD 1,5 miliar dari pendapatan tersebut dan masih tumbuh 100 persen year-over-year. Sementara itu, database untuk agen AI bernama Lakebase yang diluncurkan Juni 2025 telah mencapai USD 100 juta pendapatan berjalan.

Dana Segar untuk Biaya AI dan Akuisisi

Lantas, mengapa perusahaan yang kinerjanya bagus masih butuh dana besar? Ghodsi menegaskan bahwa AI membutuhkan biaya yang sangat mahal. Databricks memiliki komitmen cloud senilai miliaran dolar dengan tiga penyedia hyperscaler utama.

"Riset AI juga sangat mahal," tambahnya. Perusahaan memiliki tim riset AI beranggotakan 100 orang, sebuah bidang yang sangat kompetitif. Dana segar ini juga akan digunakan untuk aktivitas merger dan akuisisi.

Pekan ini saja, Databricks mengakuisisi Electric, perusahaan pembuat database ringan Postgres PGlite. Sebelumnya, mereka membeli perusahaan keamanan siber AI Panther pada Juni dan dua startup lainnya pada Maret.

Kapan Databricks Melantai di Bursa?

Status Databricks sebagai perusahaan privat yang terus menggalang dana menjadi bahan lelucon di kalangan Silicon Valley. Saat mengumumkan pendanaan bulan lalu, warganet bercanda bahwa perusahaan kehabisan huruf alfabet untuk menamai putaran pendanaannya.

Ghodsi sendiri menyatakan tetap ingin membawa perusahaan melantai di bursa suatu hari nanti. Namun, dengan segudang investor yang mengantre dan minat yang bisa mencapai USD 15 miliar, keputusan untuk tetap privat sambil fokus berinvestasi di AI tampak menjadi pilihan yang masuk akal.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks