KENDAL — Banjir besar yang menerjang aliran Sungai Waridin tak hanya memutus akses jalan antarwarga, tapi juga menghilangkan infrastruktur pengendali banjir. Pintu air yang selama ini berfungsi mengatur debit air dilaporkan hanyut tak tersisa.
Akibatnya, air sungai dengan leluasa memasuki kawasan pemukiman. Sejumlah rumah warga di bantaran sungai terendam banjir hingga Sabtu pagi.
Kayu dan Sampah Jadi Pemicu Runtuhnya Konstruksi
Kepala Desa Kumpulrejo, Edi Hariyanto, mengatakan peningkatan debit air terjadi sangat cepat setelah hujan deras mengguyur wilayah selatan Kendal sejak sore hingga malam hari. Material kayu dan sampah yang terbawa arus dari hulu kemudian tersangkut di bawah jembatan.
“Kayu besar dan sampah tersangkut di bawah jembatan sehingga arus air menekan sangat kuat. Jembatan akhirnya tidak mampu bertahan dan hanyut terbawa banjir,” ujar Edi kepada wartawan, Sabtu (16/5).
Tekanan arus yang tertahan material membuat konstruksi jembatan tak mampu bertahan. Seluruh struktur ambrol dan hanyut terbawa derasnya Sungai Waridin.
Tanggul Sungai Jebol Sepanjang 50 Meter
Tak hanya jembatan, banjir juga menggerus tanggul sungai di titik yang sama. Badan tanggul jebol sepanjang sekitar 50 meter, membuat aliran sungai semakin mendekati permukiman warga.
Warga yang datang ke lokasi Sabtu pagi hanya bisa menyaksikan sisa-sisa konstruksi yang nyaris hilang. Akses utama penghubung dua kecamatan itu kini tak bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.
Belum Ada Laporan Korban Jiwa, Warga Mulai Mengungsi
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, warga di bantaran Sungai Waridin mulai mengungsi ke tempat yang lebih aman menyusul ancaman banjir susulan.
Pemerintah desa setempat masih melakukan pendataan jumlah rumah yang terendam dan warga yang terdampak. Pihak kecamatan dan BPBD Kendal disebut telah turun ke lokasi untuk melakukan asesmen dan penanganan darurat.