Pencarian

Bank of Japan Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga ke 1 Persen pada Rapat Juni, Level Tertinggi 30 Tahun

Kamis, 04 Juni 2026 • 13:33:01 WIB
Bank of Japan Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga ke 1 Persen pada Rapat Juni, Level Tertinggi 30 Tahun
Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan kemungkinan kenaikan suku bunga pada rapat Juni.

JAWA TENGAH — Bank of Japan (BOJ) belum menutup kemungkinan untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini, meskipun ketidakpastian global masih tinggi akibat konflik Timur Tengah yang mempengaruhi harga minyak. Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan bahwa untung-rugi kenaikan suku bunga harus dibahas secara menyeluruh dalam rapat dewan kebijakan moneter yang dijadwalkan pada 15-16 Juni. Pasar kini berspekulasi bahwa suku bunga acuan bisa naik dari 0,75 persen ke level 1 persen.

Risiko Inflasi dari Lonjakan Harga Minyak yang Lebih Cepat Menjalar

Ueda mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah kini berpotensi menyebar lebih cepat ke harga barang konsumen. "Kemungkinan besar, kenaikan harga akibat lonjakan minyak mentah kini lebih cepat diteruskan dan lebih mudah menyebar ke lebih banyak jenis barang," kata Ueda dalam pidatonya di acara Kyodo News, Tokyo, Kamis (4/6).

Menurutnya, dampak awal akan terasa pada produk plastik, tarif listrik, dan biaya distribusi. Tekanan harga kemudian diperkirakan meluas ke sektor otomotif, konstruksi, hotel, restoran, hingga jasa makanan dan minuman. Jepang, yang sangat bergantung pada impor komoditas, berada dalam posisi rentan terhadap gejolak harga energi.

Tiga Anggota Dewan Sudah Dorong Kenaikan Bunga Sejak April

BOJ sebelumnya menahan suku bunga dalam tiga rapat beruntun hingga April, dengan alasan ingin mencermati dampak konflik Timur Tengah. Namun, tiga dari sembilan anggota Dewan Kebijakan BOJ saat itu sudah mendorong kenaikan bunga karena kekhawatiran terhadap inflasi yang terus berlanjut. Pasar obligasi pun sudah bergerak lebih dulu: imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun menyentuh 2,8 persen pada Mei, level tertinggi dalam 29 tahun.

Ueda menilai kenaikan imbal hasil jangka panjang itu mencerminkan ekspektasi pasar terhadap inflasi Jepang yang lebih cepat. Ia menambahkan, terlambat menaikkan suku bunga juga berisiko. Jika BOJ akhirnya harus menaikkan bunga secara besar-besaran untuk mengejar inflasi, beban terhadap ekonomi, pasar keuangan, dan sistem keuangan bisa lebih berat.

Normalisasi Kebijakan Moneter dan Masa Depan Pembelian Obligasi

Di bawah kepemimpinan Ueda, BOJ perlahan meninggalkan kebijakan moneter ultra-longgar yang berlangsung lebih dari satu dekade. Bank sentral kini semakin yakin target inflasi 2 persen dapat dicapai secara berkelanjutan. Ueda menilai perusahaan Jepang kini lebih berani menaikkan harga dan upah pekerja, sementara kondisi pembiayaan masih longgar dan menjadi penyangga ekonomi.

Selain suku bunga, rapat bulan ini juga akan membahas arah pembelian obligasi pemerintah setelah April 2027. BOJ selama ini bertahap mengurangi pembelian obligasi sebagai bagian dari normalisasi kebijakan. Ueda mengatakan pasar obligasi Jepang mulai kembali menjalankan fungsi normal setelah pengurangan pembelian dilakukan. Ke depan, BOJ akan menimbang dua hal: memperbaiki fungsi pasar dan menjaga stabilitas pasar obligasi.

Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks