SEMARANG — Daniel, 40 tahun, manajer di sebuah perusahaan kondang di Semarang, punya kebiasaan membeli barang-barang branded. Jaket, sepatu, hingga jam tangan bermerek jadi koleksi sehari-hari. Namun, di balik penampilan mewah itu, utang menggunung.
Total cicilan yang belum lunas mencapai lebih dari Rp 2 miliar. Pinjaman tersebar di belasan aplikasi pinjaman online (pinjol) dan dua bank. Gaji bulanan yang diterima tak lagi cukup untuk menutup angsuran.
Dari Kopi hingga Cicilan Mobil: Gaya Hidup yang Membengkak
Kebiasaan nongkrong di kafe premium sambil memesan kopi spesial jadi rutinitas. Setiap bulannya, pengeluaran untuk makan dan minum di luar bisa mencapai Rp 8 juta. Belum lagi cicilan mobil sebesar Rp 12 juta per bulan dan kredit apartemen Rp 15 juta.
Daniel mengaku awalnya hanya ingin menikmati hasil kerja keras. Tawaran kartu kredit dengan limit besar dan kemudahan pinjaman online membuatnya terus bergaya. "Saya pikir semua bisa diatur. Ternyata bunganya membengkak," katanya.
Pinjaman Online Jadi Jurang: Bunga 0,8 Persen Per Hari Menggerogoti
Dari total utang Rp 2 miliar, sekitar Rp 800 juta merupakan pinjaman dari 12 aplikasi pinjol. Bunga harian 0,8 persen membuat jumlah tagihan terus bertambah setiap hari. Daniel sempat meminjam untuk menutup utang lain, praktik yang dikenal dengan istilah gali lubang tutup lubang.
Kondisi ini diperparah dengan pendapatan yang tak kunjung naik. Gaji sebagai manajer, yang sekitar Rp 25 juta per bulan, habis untuk membayar bunga dan cicilan lama. "Uang gaji langsung ludes. Saya bahkan tak punya sisa untuk kebutuhan pokok," ujarnya.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Kasus Daniel?
Kasus ini bukan tunggal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat peningkatan kredit macet di sektor pinjaman online, khususnya pada kelompok pekerja kantoran dengan gaji menengah ke atas. Polanya sama: gaya hidup melebihi kapasitas finansial.
Daniel kini tengah mengajukan restrukturisasi utang ke bank dan bernegosiasi dengan beberapa penyedia pinjol. Ia juga mulai menjual barang-barang branded miliknya. "Saya sadar, penampilan bukan segalanya. Sekarang saya harus memulai dari nol," katanya menyesali.