WONOGIRI — OJK Cabang Surakarta memaparkan data indeks literasi keuangan nasional yang mencapai 69,57 persen, naik dari 66,64 persen pada 2025. Sementara indeks inklusi keuangan nasional berada di 93,61 persen, meningkat dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya.
Angka-angka itu jauh berbeda dengan capaian sektor keuangan syariah. Indeks literasi keuangan syariah baru menyentuh 43,07 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan syariah tertahan di 13,24 persen.
Kesenjangan Minat, Pemanfaatan, dan Pemahaman
Kabag Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) OJK Cabang Surakarta, Heri Santoso, menyebut jarak antara akses dan pemahaman masyarakat terhadap produk syariah masih lebar.
"Ada kesenjangan yang cukup besar antara minat, pemanfaatan, dan pemahaman masyarakat terhadap produk syariah," kata Heri.
Tingginya akses warga terhadap layanan keuangan belum otomatis diikuti pemahaman yang memadai, khususnya soal produk dan layanan berbasis syariah. OJK menilai edukasi perlu diperluas agar pemahaman tumbuh seiring akses.
Mengapa Pesantren Jadi Sasaran Edukasi?
Heri menilai lingkungan pesantren punya peran strategis dalam mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah. Santri diharapkan tidak hanya memahami prinsip keuangan sesuai ajaran Islam, tetapi juga menjadi pelopor literasi keuangan di lingkungan masing-masing.
Keuangan syariah mengedepankan prinsip keadilan dan transparansi, serta menghindari riba, gharar atau ketidakjelasan dalam transaksi, dan maysir atau perjudian. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat mengenali karakteristik produk keuangan syariah, memahami manfaat dan risikonya, lalu mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak.
Pemkab Wonogiri: Ini Kegiatan Pertama Tahun 2026
Asisten Bupati Wonogiri Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda, Adhi Dharma, mengapresiasi partisipasi santri dan pengurus Ponpes Al Barru. Ia menyebut edukasi keuangan syariah di ponpes tersebut menjadi kegiatan pertama yang digelar Pemkab Wonogiri bersama OJK Surakarta pada 2026.
"Di sini (Ponpes Al Barru) yang pertama kali kita adakan tahun ini. Melalui edukasi sejak dini, Pemkab Wonogiri bersama OJK Solo ingin membekali para santri agar menjadi konsumen keuangan yang cerdas," ungkap Adhi.
Bekal agar Santri Tak Mudah Terjebak Penawaran Merugikan
Kegiatan ini diharapkan membantu santri mengenali layanan keuangan secara lebih kritis, termasuk memahami ketentuan produk sebelum menggunakannya. Bekal tersebut dinilai penting agar mereka tidak mudah terjebak penawaran keuangan yang tidak jelas atau praktik yang merugikan.
Di tengah meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan, tantangannya bukan hanya memperluas penggunaan produk. Masyarakat juga perlu memahami cara kerja, manfaat, biaya, serta risiko dari setiap layanan yang dipakai.
Data literasi dan inklusi keuangan syariah yang dipaparkan OJK menjadi pekerjaan rumah untuk memperluas edukasi. Pemahaman masyarakat diharapkan dapat tumbuh seiring dengan akses terhadap layanan keuangan.