Pencarian

Pameran 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Kota Lama Semarang Digelar 15-20 Oktober 2026

Senin, 19 Oktober 2026 • 10:31:01 WIB
Pameran 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Kota Lama Semarang Digelar 15-20 Oktober 2026
Pengunjung mengamati materi pameran "Dari Semarang Kita Mulai" di Rumah PoHan, Semarang.

SEMARANG — Pameran bertajuk "DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang" dibuka Kamis (15/10/2026) dan berlangsung hingga 20 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan komunitas pegiat sejarah, akademisi, Legiun Veteran Republik Indonesia, serta Kepala Dinas Arpus Kota Semarang Nur Huda Iskandar yang membuka acara secara resmi.

Selain Rumah PoHan dan Dinas Arpus Kota Semarang, pameran didukung Prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang. Anggota DPR RI Komisi VII Samuel J.D. Wattimena turut hadir dalam pembukaan.

Mengapa Semarang Ditempatkan sebagai Titik Awal Revolusi

Judul pameran berangkat dari pernyataan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang menyebut Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Pernyataan itu menjadi pijakan untuk menempatkan Semarang bukan sekadar lokasi peristiwa, melainkan salah satu titik penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pertempuran sendiri berlangsung pada 15 hingga 19 Oktober 1945. Meski sudah 81 tahun berlalu, menurut penyelenggara masih banyak cerita yang belum tergali, terutama soal tokoh yang terlibat, dinamika perjuangan, dan pengalaman masyarakat dengan latar belakang beragam.

Sumber Lokal dan Tokoh yang Belum Banyak Dibahas

Kurator pameran Kesit Widjanarko menyebut pihaknya banyak menampilkan sumber-sumber lokal yang selama ini belum banyak digali. Materi itu termasuk informasi mengenai tokoh-tokoh penting yang terlibat dalam pertempuran.

"Lewat pameran ini kami ingin mengajak publik melihat kembali posisi penting Semarang dalam sejarah nasional. Dalam pameran ini, kami juga banyak menampilkan sumber-sumber lokal yang selama ini belum banyak digali, termasuk informasi mengenai tokoh-tokoh penting yang terlibat di dalamnya," ujar Kesit dalam siaran pers yang diterima Indoraya.News, Senin (19/10/2026).

Kesit berharap pameran menjadi pintu masuk bagi penelitian dan penelusuran sejarah yang lebih luas.

Warga Biasa Ikut Dibahas, Bukan Hanya Garis Depan

Pengunjung tidak hanya diajak menyimak kronologi pertempuran dan kisah perjuangan bersenjata. Pameran juga memperkenalkan sejumlah tokoh berlatar belakang berbeda, di antaranya R.M. Bambang Soeprapto, Ibnu Parna, K.R.M.T. Wongsonegoro, Mgr. Albertus Soegijapranata, dan Mr. Kasman Singodimedjo.

Narasi pameran menekankan bahwa sejarah perang tidak hanya dibentuk mereka yang bertempur di garis depan. Warga yang menyediakan makanan, merawat korban, menyampaikan informasi, mengangkut kebutuhan perjuangan, hingga menyelamatkan keluarga dari kawasan berbahaya turut menjadi bagian pengalaman sejarah kota.

Keberagaman masyarakat Semarang, baik dari latar belakang sosial maupun budaya, ditempatkan sebagai bagian penting untuk memahami bagaimana warga menghadapi masa revolusi.

Semangat Perjuangan Dimaknai Ulang untuk Tantangan Kini

Anggota DPR RI Samuel J.D. Wattimena menyoroti relevansi semangat perjuangan bagi masyarakat masa kini. Menurutnya, semangat rakyat Semarang perlu diwujudkan dalam bentuk yang sesuai tantangan zaman.

"Semangat rakyat Semarang pada waktu Pertempuran Lima Hari di Semarang hari ini harus dimaknai ulang. Semangat itu perlu diwujudkan dalam bentuk yang lebih ekspresif dan bermanfaat bagi masyarakat. Perjuangan tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti pada masa lalu, tetapi dapat diteruskan melalui berbagai upaya yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan bersama," ujar Samuel.

Apresiasi datang dari pengunjung Gregorious Hendrawan Manurung. Ia menilai penyajian pameran mempertemukan pendekatan artistik dengan kedalaman materi sejarah.

"Pameran di Rumah PoHan ini, selain secara artistik ditata dengan bagus, materi di dalamnya juga dinarasikan dengan baik sekali karena didahului oleh riset yang mendalam terlebih dahulu. Hal ini membuat pengunjung tidak hanya menikmati penyajian visualnya, tetapi juga dapat memahami konteks sejarah yang disampaikan," ujar Gregorious.

Pameran Dibuka untuk Penelusuran Sejarah Lanjutan

Bagi Rumah PoHan, pameran ini bukan titik akhir upaya memahami Pertempuran Lima Hari di Semarang. Penyelenggara membuka ruang bagi sejarawan, akademisi, peneliti, arsiparis, seniman, dan budayawan untuk melanjutkan penggalian sejarah dari materi yang disajikan.

Pameran di Jalan Kepodang 64, Kawasan Kota Lama, Semarang, masih berlangsung hingga 20 Oktober 2026.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: indoraya.news

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks