SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan pertama 2026 mencapai 5,89 persen secara tahunan (yoy). Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,61 persen pada periode yang sama.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah atas dasar harga berlaku menyentuh Rp511,99 triliun. Sementara jika dihitung berdasarkan harga konstan 2010, nilainya mencapai Rp315,73 triliun. Dibandingkan triwulan IV-2025, ekonomi daerah ini juga menunjukkan penguatan sebesar 1,85 persen.
Sektor Pertanian dan Belanja Pemerintah Jadi Motor Utama
Lonjakan ekonomi pada awal tahun ini dipicu oleh performa impresif sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 21,53 persen. Kenaikan tajam tersebut dipengaruhi oleh momentum musim panen raya serta peningkatan produktivitas pangan di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi stimulan kuat dengan pertumbuhan mencapai 19,36 persen (yoy). Akselerasi belanja negara dan daerah di awal tahun terbukti efektif menggerakkan roda ekonomi masyarakat, didukung pula oleh kinerja ekspor barang dan jasa yang tumbuh 8,84 persen.
Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, menjelaskan bahwa meski sektor jasa mulai menggeliat, industri pengolahan tetap menjadi fondasi utama. "Industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 32,69 persen terhadap PDRB, meskipun pertumbuhannya berada di angka moderat 4,04 persen," ujarnya dalam rilis data terbaru.
PMA Dominasi Realisasi Investasi Rp 23 Triliun
Kepercayaan pemodal terhadap iklim usaha di Jawa Tengah terus menguat. Pada triwulan I-2026, realisasi investasi tercatat mencapai Rp23,02 triliun. Angka ini setara dengan 23,23 persen dari total target investasi tahunan yang dipatok sebesar Rp99,09 triliun.
Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi komposisi investasi dengan nilai Rp12,98 triliun atau sekitar 56,40 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp10,04 triliun atau 43,60 persen dari total realisasi.
Kondisi ekonomi yang stabil juga tercermin dari konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi penopang struktur ekonomi dengan kontribusi mencapai 60,01 persen. Hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat Jawa Tengah tetap terjaga di tengah tren pertumbuhan yang positif.