Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Senin (11/5/2026), merosot lebih dari satu persen. Di tengah tekanan itu, sektor kesehatan justru mencatatkan lonjakan signifikan hingga 5,57%, memimpin penguatan di antara 11 sektor lainnya.
JAKARTA — IHSG dibuka tipis di level 6.959,94, nyaris sama dengan penutupan akhir pekan lalu. Namun, indeks langsung terpeleset ke zona merah. Pada pukul 09.43 WIB, IHSG sudah anjlok 1,07% ke posisi 6.894, dengan indeks LQ45 ikut tertekan 1,4% ke level 666.
Dari 11 sektor saham, hanya dua yang bertahan di zona hijau. Sektor kesehatan melesat 5,57%, sementara sektor infrastruktur menguat 1,38%. Di sisi lain, sektor energi menjadi yang terpuruk dengan koreksi 2,36%, disusul sektor industri yang terpangkas 1,53% dan sektor keuangan yang melemah 1,37%.
Mengapa Saham Kesehatan Justru Melonjak Saat IHSG Merah?
Lonjakan saham kesehatan tidak lepas dari aksi beli terhadap emiten farmasi dan rumah sakit. Saham KAEF melesat 23,12%, sementara PEHA juga naik 23,12%. Aksi ini mendorong sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor dengan kenaikan di atas lima persen.
Sebaliknya, saham-saham di sektor energi dan basic materials justru babak belur. Saham NIKL ambles 13%, sementara ESIP merosot hampir 15% dan masuk jajaran top losers. Total, 455 saham tercatat melemah, jauh lebih banyak dibanding 184 saham yang menguat.
Volume Transaksi Masih Tinggi, Investor Asing Terus Bergerak
Meski IHSG tertekan, aktivitas perdagangan tetap ramai. Total frekuensi mencapai 838.475 kali dengan volume 12 miliar saham dan nilai transaksi Rp 5,7 triliun. Posisi dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 17.407.
Saham BMRI menjadi yang paling aktif berdasarkan nilai dengan transaksi Rp 666,7 miliar, disusul BUMI senilai Rp 336,4 miliar. Sementara itu, saham PADI menjadi yang paling sering diperdagangkan dengan frekuensi 48.370 kali, diikuti MEDS yang juga mencatatkan kenaikan harga 32,48% dan masuk top gainers.
Apa yang Terjadi pada Saham Unggulan Lainnya?
Tekanan terbesar justru datang dari saham perbankan. BMRI terkoreksi 7,34% menjadi Rp 4.290 per saham, turun signifikan dari penutupan sebelumnya Rp 4.630. Saham BRMS juga merosot 2% ke Rp 735, sementara AADI turun 3,18% ke Rp 9.125.
Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi kecil justru mencuri perhatian. MEDS naik 32,48%, IKPM melonjak 29,66%, dan LABS naik 24,22%. Pola ini menunjukkan pergeseran minat investor dari saham-saham big caps ke saham-saham spekulatif di tengah ketidakpastian pasar.
Dengan IHSG yang masih berada di bawah level 7.000, pelaku pasar kini menanti sentimen dari data ekonomi domestik dan pergerakan bursa Asia yang bervariasi. Pekan ini, pergerakan rupiah dan aksi jual asing akan menjadi penentu utama arah indeks selanjutnya.