SOLO — Talkshow peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Horison Aziza Solo menghasilkan satu titik temu: kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri adalah keniscayaan. Acara yang digelar pada Kamis (2/5/2024) itu menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi mencetak lulusan yang tak sekadar cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Mengapa Sinergi Pendidikan dan Industri Mendesak?
Para pembicara dalam talkshow tersebut memaparkan bahwa kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja terampil, sementara di sisi lain angka pengangguran terbuka dari kalangan terdidik masih tinggi.
“Dunia pendidikan dan industri dinilai harus berjalan beriringan untuk menciptakan sumber daya manusia yang tangguh dan siap menghadapi persaingan kerja,” demikian benang merah yang disepakati dalam forum tersebut.
Horison Aziza Solo: Kampus Bisa Jadi Jembatan
Horison Aziza Solo, yang tengah memperingati HUT ke-23, mengambil peran sebagai inisiator. Melalui acara ini, mereka ingin mendorong agar kurikulum di perguruan tinggi atau lembaga pelatihan tidak lagi sekadar teoritis. Sebaliknya, harus ada program magang, kunjungan industri, hingga pelatihan berbasis proyek nyata yang melibatkan perusahaan.
Pendekatan ini dinilai mampu mempersingkat masa transisi lulusan dari bangku kuliah ke dunia profesional. Mereka tak perlu lagi belajar dari nol saat direkrut perusahaan karena sebagian kompetensi sudah diasah selama masa pendidikan.
Apa Dampaknya bagi Lulusan di Solo Raya?
Bagi mahasiswa dan siswa di Solo Raya, sinergi ini membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan layak setelah lulus. Mereka tak hanya dibekali ijazah, tetapi juga portofolio pengalaman kerja yang diakui industri. Talkshow ini pun merekomendasikan agar setiap institusi pendidikan memiliki peta jalan kerja sama dengan perusahaan di wilayahnya masing-masing.
“Ini bukan sekadar wacana. Kolaborasi konkret seperti program magang bersertifikat dan pengembangan kurikulum bersama harus segera direalisasikan,” tegas salah satu pembicara dalam forum.
Bagaimana Langkah Selanjutnya?
Pihak Horison Aziza Solo berkomitmen untuk menjadikan talkshow ini sebagai agenda tahunan. Mereka akan terus memfasilitasi dialog antara akademisi, pelaku industri, dan pemerintah daerah. Harapannya, model kolaborasi yang dirumuskan bisa direplikasi oleh institusi pendidikan lain di Jawa Tengah.
Dengan sinergi yang kuat, lulusan tak lagi menjadi pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja yang siap bersaing di era industri 4.0.