JAWA TENGAH — Indeks Ekspektasi Harga Umum pedagang untuk November naik dari 146,5 menjadi 149,9, sementara ekspektasi Februari 2027 melonjak lebih tajam ke 177,9 dari 166,0. Kenaikan itu terjadi saat inflasi Indonesia September 2026 masih tertahan di 3,28% secara tahunan, dalam sasaran 2,5±1 persen. Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia menunjukkan tekanan harga mulai terbentuk jauh sebelum muncul di statistik.
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia terbaru merekam pergeseran pandangan pelaku usaha ritel terhadap arah harga beberapa bulan ke depan. Inflasi tahunan September 2026 tercatat 3,28%, masih di dalam rentang sasaran bank sentral. Namun indeks ekspektasi harga umum pedagang bergerak naik, menandakan sebagian pelaku pasar sudah mulai memperhitungkan kenaikan biaya.
Kenaikan indeks ekspektasi bukan berarti inflasi dipastikan melonjak. Angka itu hanya merekam pandangan pedagang terhadap arah harga, dan sebagian kenaikannya bisa mencerminkan pola musiman menjelang Ramadan serta Idulfitri.
Ekspektasi Pedagang Naik di Tengah Inflasi yang Masih Terkendali
Dua angka menjadi perhatian dari SPE terkini. Indeks Ekspektasi Harga Umum untuk November naik dari 146,5 ke 149,9. Untuk Februari 2027, kenaikannya lebih tajam, dari 166,0 menjadi 177,9.
Selisih kenaikan itu menunjukkan pedagang melihat tekanan harga lebih terasa pada awal 2027 dibanding dua bulan ke depan. Sebagian analis membaca lonjakan ekspektasi Februari sebagai cerminan persiapan stok menjelang Ramadan dan Idulfitri, bukan sinyal inflasi struktural.
Mengapa Ekspektasi Penting bagi Bank Sentral
Pelaku usaha menentukan harga tidak hanya berdasarkan biaya hari ini, tetapi juga perkiraan biaya yang akan datang. Pedagang yang memperkirakan harga grosir naik bisa menambah stok lebih awal. Distributor memperpendek tempo pembayaran. Produsen mengamankan bahan baku sebelum lebih mahal. Pekerja yang memperkirakan biaya hidup naik dapat menuntut kenaikan upah lebih besar.
Masalah muncul ketika banyak pelaku ekonomi melakukan penyesuaian serupa secara bersamaan. Perkiraan harga yang lebih tinggi mulai memengaruhi keputusan hari ini, lalu keputusan itu ikut mendorong harga yang semula hanya diperkirakan naik. Dari situ bank sentral punya alasan kuat memantau ekspektasi, bukan cuma realisasi inflasi.
Bank Indonesia menargetkan inflasi 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027. BI Rate dipertahankan di 5,75% pada September, antara lain untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran di tengah tekanan eksternal.
Kapan Ekspektasi Berhenti Jadi Sekadar Musiman
Yang perlu dibedakan adalah apakah kenaikan ekspektasi meluas, bertahan, dan menimbulkan efek putaran kedua. Ekspektasi yang naik menjelang hari besar biasanya hanya membaca musim. Namun jika kenaikannya bertahan setelah faktor musiman berlalu, dan mulai memengaruhi penetapan upah, margin usaha, serta tekanan harga yang persisten, ekspektasi itu bisa ikut mendorong inflasi.
Dalam skenario itu, produsen menaikkan harga untuk mengantisipasi bahan baku. Pekerja meminta kompensasi biaya hidup. Perusahaan kembali menaikkan harga untuk menutup biaya tenaga kerja. Konsumen mempercepat pembelian sebelum barang lebih mahal. Pembelian yang dipercepat mendorong permintaan, sementara kenaikan upah dan biaya input mendorong produsen menaikkan harga lagi.
Di titik itu ekspektasi tidak lagi mengikuti inflasi, tetapi ikut memperkuatnya.
Suku Bunga Bukan Satu-satunya Instrumen
Menjaga ekspektasi tidak identik dengan selalu menaikkan suku bunga. Yang lebih menentukan adalah apakah kebijakan yang diambil cukup kredibel untuk meyakinkan masyarakat bahwa guncangan harga tidak berkembang menjadi inflasi.
Jika tekanan harga berasal dari cabai yang gagal panen, distribusi yang terganggu, atau cuaca, suku bunga tidak bisa menghasilkan pasokan cabai atau memperbaiki jalan. Untuk kasus seperti itu, BI bekerja sama dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID guna mengendalikan inflasi pangan dan mengantisipasi gangguan cuaca.
Peran kebijakan moneter yang lebih luas adalah memastikan masyarakat dan pelaku usaha tetap percaya bahwa guncangan harga hanya sementara.
Komunikasi sebagai Bagian dari Kebijakan
Komunikasi bank sentral punya bobot tersendiri. Saat BI menyatakan inflasi diperkirakan berada dalam sasaran, pesan itu bisa memengaruhi perilaku bila publik mempercayainya. Namun komunikasi bukan mantra. Pesannya efektif hanya jika publik melihat konsistensi antara pernyataan, keputusan kebijakan, dan perkembangan harga yang mereka alami sehari-hari.
Bagi pelaku usaha, sinyal dari SPE layak dijadikan indikator awal. Bagi investor, arah indeks ekspektasi pedagang bisa menjadi petunjuk dini apakah ruang penurunan BI Rate tetap terbuka atau justru menyempit jika tekanan harga bertahan setelah musim hari besar berlalu.